Frankenstein45.Com – 21 April 2026 | Antonio Conte, pelatih SSC Napoli yang selama satu tahun terakhir memimpin tim Serie A dengan taktik agresif, kini menjadi sorotan utama dalam perbincangan sepakbola Italia. Sejumlah laporan mengindikasikan bahwa jika ia bersedia kembali mengemban tugas sebagai pelatih Tim Nasional Italia, ia harus menerima pemotongan gaji yang signifikan dibandingkan dengan kontraknya di Napoli.
Menurut data yang dihimpun oleh OneFootball pada 20 April 2026, gaji pokok Conte saat ini di Napoli mencapai €6,5 juta per tahun, ditambah bonus €2,5 juta apabila tim berhasil lolos ke Liga Champions. Sementara itu, standar gaji kepala pelatih Timnas Italia biasanya tidak melebihi €3 juta per tahun. Pada masa sebelumnya, ketika Conte menjabat sebagai pelatih Azzurri antara 2014 dan 2016, ia memperoleh sekitar €4,5 juta per tahun, dengan tambahan pendapatan dari sponsor Puma dan hak citra pribadi.
Keinginan untuk kembali ke panggung internasional bukanlah hal baru bagi Conte. Dalam sebuah wawancara pasca pertandingan akhir pekan ini, ia mengungkapkan rasa terhormatnya jika diberi kesempatan lagi mengelola Timnas Italia. “Jika saya menjadi Presiden FIGC, saya akan mempertimbangkan diri saya bersama kandidat lain. Karena saya sudah pernah bekerja dengan tim nasional dan memahami lingkungan ini,” ujarnya dengan nada optimis.
Kekosongan jabatan pelatih Timnas Italia muncul setelah Gennaro Gattuso mengundurkan diri usai kekalahan dramatis melawan Bosnia dan Herzegovina pada play‑off final Piala Dunia pada akhir Maret 2026. Gattuso menyerah setelah kritik keras terkait taktik dan hasil buruk tim. Dengan posisi tersebut kosong, nama-nama pelatih top Serie A, termasuk Conte dan Massimiliano Allegri (pelatih AC Milan), langsung masuk dalam daftar kandidat utama.
Berikut rangkuman kondisi keuangan dan faktor pertimbangan utama bagi Conte:
- Gaji di Napoli: €6,5 juta (pokok) + €2,5 juta (bonus).
- Gaji standar Timnas Italia: ≤ €3 juta (pokok) dengan bonus terbatas.
- Pendapatan tambahan sebelumnya: Sponsor Puma dan hak citra.
- Durasi kontrak Napoli: Satu tahun tersisa, berakhir pada akhir musim 2025‑26.
Jika Conte memutuskan untuk melangkah ke tim nasional, ia tidak hanya harus menerima pemotongan gaji, tetapi juga menyesuaikan diri dengan struktur remunerasi yang lebih sederhana, di mana sebagian besar pendapatan tambahan biasanya berasal dari sponsor pribadi atau perjanjian komersial khusus.
Di sisi lain, klub Napoli tidak diam terhadap spekulasi ini. Presiden klub, Aurelio De Laurentiis, menegaskan bahwa ia tidak menginginkan Conte meninggalkan Napoli kecuali ada kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. De Laurentiis menambahkan, “Kami menghargai kontribusi Conte, namun kami juga memahami ambisi profesionalnya. Jika ada peluang yang tepat, kami akan mendiskusikannya secara terbuka.”
Selain Conte, Allegri juga disebut-sebut sebagai alternatif kuat. Allegri memiliki rekam jejak sukses di AC Milan dan sebelumnya pernah menjadi kandidat menolak tawaran Napoli. Pilihan antara dua pelatih berpengalaman ini menambah dimensi strategis bagi FIGC dalam menentukan arah tim nasional ke depan.
Dalam konteks yang lebih luas, keputusan ini mencerminkan dinamika pasar pelatih sepakbola Eropa, di mana gaji tinggi di klub besar sering berbenturan dengan kebijakan keuangan tim nasional yang lebih ketat. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan model remunerasi untuk pelatih elit yang beralih antara kompetisi domestik dan internasional.
Apapun keputusan akhir, pemotongan gaji yang harus dihadapi Conte menjadi indikator kuat bahwa FIGC bersedia menyesuaikan ekspektasi finansial demi mendapatkan pengalaman taktik dan kepemimpinan yang terbukti. Bagi Napoli, kehilangan pelatih berkarakter seperti Conte bisa memengaruhi performa mereka di Serie A, terutama menjelang fase penutup musim.
Dengan situasi yang masih berkembang, mata dunia sepakbola akan terus memantau perkembangan negosiasi antara Conte, Napoli, dan FIGC. Jika semua pihak berhasil menemukan titik temu, kembalinya Conte ke Timnas Italia dapat menjadi babak baru yang menandai era kebangkitan Azurri di panggung internasional.




