Frankenstein45.Com – 06 Mei 2026 | Industri susu global kini berada di persimpangan penting, di mana lonjakan permintaan whey protein dipicu oleh popularitas obat penurun berat badan tipe GLP‑1. Perusahaan-perusahaan besar seperti Danone, Arla Foods, dan FrieslandCampina berusaha memperluas kapasitas produksi serta meluncurkan varian baru untuk memanfaatkan tren kesehatan ini.
Whey Protein Melonjak Tajam Karena GLP‑1
Menurut data konsultan StoneX, harga konsentrasi whey protein 80 % (WPC 80) meningkat hampir 90 % dalam satu tahun terakhir, mencapai €20.000 per metrik ton. Kenaikan ini melampaui pertumbuhan segmen susu lainnya, termasuk susu bubuk dan keju. Penyebab utama adalah peningkatan konsumsi protein di kalangan pengguna obat GLP‑1, yang dikenal dapat menurunkan nafsu makan sekaligus menurunkan massa otot bila tidak diimbangi dengan asupan protein yang cukup.
“Permintaan kuat untuk whey protein, yang kini dipicu lebih jauh oleh GLP‑1, menuntut industri untuk menemukan volume yang belum tergali,” ujar Luis Cubel, Managing Director Arla Foods Ingredients kepada Reuters.
Danone Memperkuat Portofolio Protein
Danone, melalui merek yoghurt Oikos, menambahkan produk tinggi protein ke dalam jajaran penjualannya. Langkah ini sejalan dengan strategi perusahaan untuk menanggapi kebutuhan konsumen yang ingin mempertahankan massa otot sambil menurunkan berat badan. Produk Oikos kini mengandung kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan varian standar, memanfaatkan surplus whey yang tersedia.
Investasi serupa juga terlihat pada Bel Group yang meluncurkan Babybel Protein, serta DFA (Dairy Farmers of America) yang memperkenalkan cottage cheese MULU dengan 18 gram protein per setengah cangkir, jauh di atas produk konvensional.
Tekanan Greenwashing di Sektor Makanan
Sementara perusahaan susu bersaing memproduksi protein, sektor daging menghadapi tuduhan greenwashing yang semakin intens. Laporan Sentient mengungkap bahwa 98 % klaim keberlanjutan perusahaan daging dianggap menyesatkan, menempatkan tekanan tambahan pada produsen makanan untuk menegaskan kredibilitas lingkungan mereka.
Dalam konteks ini, Danone berusaha menyeimbangkan antara ekspansi whey protein dan komitmen keberlanjutan. Perusahaan telah menandatangani sejumlah inisiatif untuk mengurangi jejak karbon produksi susu, meski masih harus membuktikan hasil konkrit di mata regulator dan konsumen.
Kendala Infrastruktur dan Alternatif Protein
John Lancaster, kepala konsultasi dairy di StoneX, menyatakan bahwa kapasitas pengolahan whey belum dapat memenuhi lonjakan permintaan. Keterbatasan fasilitas pengolahan whey menjadi hambatan utama, memaksa produsen menginvestasikan dana besar untuk memperluas pabrik.
FrieslandCampina mengalokasikan lebih dari €90 juta untuk mempercepat produksi whey berkualitas tinggi, termasuk akuisisi Wisconsin Whey Protein di AS. Di sisi lain, startup berbasis fermentasi presisi seperti Verley dan Standing Ovation menarik investasi, termasuk dari Danone, untuk menciptakan protein alternatif dari jamur dan kasein. Meskipun biaya produksi masih tinggi, tren harga whey yang naik memberikan insentif bagi pengembangan alternatif yang lebih murah dalam jangka panjang.
Reaksi Konsumen dan Prospek Kedepan
Konsumen kini lebih sadar akan efek samping GLP‑1, terutama potensi kehilangan massa otot. Penelusuran data pada platform e‑commerce iHerb menunjukkan peningkatan pencarian kata kunci “GLP‑1” serta produk suplemen protein, terutama di kalangan wanita.
Namun, tantangan rasa tetap menjadi pertimbangan penting. Peter McGuinness, CEO North America Bel Group, mengakui bahwa “dalam perlombaan protein, kami kadang mengorbankan kenikmatan rasa.” Oleh karena itu, inovasi rasa menjadi fokus utama bagi produsen yang ingin mempertahankan pangsa pasar.
Secara keseluruhan, lonjakan permintaan whey protein yang dipicu oleh obat GLP‑1 membuka peluang bisnis signifikan bagi Danone dan pemain besar lainnya. Di sisi lain, kritik terhadap greenwashing di industri makanan menuntut transparansi dan aksi nyata dalam keberlanjutan. Kombinasi antara ekspansi kapasitas, investasi pada teknologi fermentasi, dan penyesuaian produk untuk memenuhi kebutuhan nutrisi konsumen akan menentukan siapa yang berhasil menguasai pasar protein di era pasca‑pandemi ini.




