Frankenstein45.Com – 28 Mei 2026 | Yogyakarta, 29 Mei 2026 – Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Prof. Dr. Setiadi, menanggapi dua isu yang tengah menggelitik publik dalam rentang waktu singkat. Pertama, ia mengonfirmasi bahwa salah satu mahasiswa Fakultas, Bagas Amar Hakiki (Mahasiswa Sastra Prancis), termasuk korban tewasnya empat orang dalam kecelakaan di sebuah tenda kamping di Temanggung. Kedua, ia memberikan klarifikasi terkait rumor yang menyebutkan seorang dosen FIB terlibat dalam operasional daycare bernama Little Aresha, sebuah fasilitas penitipan anak yang baru-baru ini menjadi sorotan media sosial.
Tragedi Temanggung: Mahasiswa FIB Jadi Korban
Pada Rabu (27/5/2026), empat anggota satu keluarga asal Ambarawa, Semarang, ditemukan tewas di dalam tenda kamping di kawasan wisata Kledung, Temanggung. Identitas korban termasuk Bagas Amar Hakiki (21) yang sedang menempuh studi Sastra Prancis di FIB UGM. Dekan Setiadi mengungkapkan, “Kami baru menerima kabar pada Kamis pagi bahwa salah satu mahasiswa kami termasuk dalam korban. Kami sangat berduka dan menunggu hasil penyelidikan kepolisian.”
Polisi masih menyelidiki penyebab kematian, dengan barang bukti berupa sisa makanan dan peralatan camping yang masih diperiksa. Hingga kini, belum ada konklusi resmi. Fakultas menyampaikan belasungkawa secara resmi dan menegaskan komitmen untuk memberikan dukungan emosional serta akademik bagi keluarga korban dan rekan-rekan sekelas.
Rumor Daycare Little Aresha: Dosen Terlibat?
Di tengah kepedihan kampus, muncul spekulasi di media sosial bahwa seorang dosen senior FIB, yang dikenal mengajar mata kuliah Kajian Budaya Populer, terlibat dalam manajemen daycare Little Aresha. Daycare tersebut berlokasi di Yogyakarta dan baru membuka layanan pada awal tahun ini. Beberapa netizen menuduh adanya konflik kepentingan karena dosen tersebut juga mengadakan workshop seni anak di tempat yang sama.
Setiadi menanggapi, “Kami menghargai kebebasan akademik staf kami untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Namun, sampai saat ini belum ada bukti yang mengindikasikan pelanggaran etika atau penyalahgunaan jabatan. Jika ada indikasi pelanggaran, kami siap melakukan audit internal sesuai prosedur universitas.”
Ia menegaskan bahwa semua dosen wajib melaporkan kegiatan luar yang dapat menimbulkan persepsi konflik kepentingan melalui unit kepatuhan. “Transparansi adalah landasan integritas lembaga. Kami tidak menutup mata pada isu apapun yang dapat mempengaruhi reputasi UGM,” tuturnya.
Reaksi Komunitas Akademik dan Publik
- Mahasiswa: Kelompok mahasiswa FIB menggelar pertemuan darurat, menuntut penjelasan lebih lanjut terkait keselamatan mahasiswa selama kegiatan luar kampus serta klarifikasi mengenai dugaan keterlibatan dosen.
- Dosen: Sebagian staf akademik menyatakan dukungan kepada rekan yang menjadi sorotan, menekankan pentingnya proses verifikasi fakta sebelum menyebarkan tuduhan.
- Orangtua dan Masyarakat: Orangtua korban menekankan perlunya investigasi yang cepat dan transparan, sementara warga Yogyakarta menyoroti kebutuhan regulasi yang lebih ketat bagi fasilitas penitipan anak.
Langkah Selanjutnya
Pihak kepolisian diperkirakan akan merilis laporan akhir dalam dua minggu ke depan. Fakultas Ilmu Budaya menyiapkan tim pendampingan psikologis bagi mahasiswa yang terdampak. Sementara itu, Universitas Gadjah Mada berjanji akan melakukan audit internal terhadap semua kegiatan eksternal yang melibatkan staf akademik, termasuk keterlibatan dalam daycare Little Aresha.
Situasi ini menyoroti betapa pentingnya transparansi institusi pendidikan tinggi dalam mengelola krisis sekaligus menjaga kepercayaan publik. Kedua peristiwa ini, meski berbeda konteks, menguji kesiapan FIB UGM dalam merespons secara cepat, akurat, dan berempati.
Dengan menunggu hasil penyelidikan resmi, semua pihak diharapkan menahan diri dari spekulasi yang belum terkonfirmasi, serta fokus pada dukungan kepada keluarga korban dan penegakan standar etika di lingkungan akademik.




