Frankenstein45.Com – 28 April 2026 | Baru-baru ini sebuah taksi berwarna hijau milik perusahaan Green SM yang melaju di wilayah Bekasi mengalami tabrakan dengan kereta api. Insiden tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai kondisi jalan di sekitar lintasan rel, yang kini dijuluki “anomali jalanan” oleh sejumlah pihak.
Penelitian awal menunjukkan bahwa tidak ada sinyal peringatan atau barikade yang berfungsi pada saat kejadian. Hal ini memicu penyelidikan lebih lanjut oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang kini tengah menelusuri faktor‑faktor teknis maupun operasional yang berkontribusi pada kecelakaan.
- Penggunaan jalur lintasan yang berada di dekat jalan raya utama tanpa penghalang fisik yang memadai.
- Kondisi visibilitas yang terbatas pada sore hari karena cahaya matahari yang menyilaukan.
- Kegagalan sistem peringatan otomatis pada kereta api di titik tersebut.
Perlu dicatat bahwa ini bukan kali pertama taksi Green SM terlibat dalam kecelakaan serupa. Pada tahun …, sebuah taksi hijau milik perusahaan yang sama juga mengalami tabrakan dengan kereta api di daerah …, yang mengakibatkan kerusakan pada kedua kendaraan dan menimbulkan korban luka. Insiden itu sebelumnya telah memicu rekomendasi perbaikan infrastruktur, namun tampaknya belum sepenuhnya diimplementasikan.
Berikut rangkuman riwayat kecelakaan yang melibatkan taksi Green SM:
| Tahun | Lokasi | Korban | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 2022 | Cikarang, Bekasi | 2 luka ringan | Taksi menabrak kereta saat menyeberang rel tanpa lampu peringatan. |
| 2023 | Depok, Jawa Barat | 1 luka serius | Kendaraan melaju terlalu cepat dan menabrak kereta yang sedang berhenti. |
| 2024 | Bekasi | 3 luka, 1 meninggal | Kasus terbaru yang menjadi sorotan publik. |
KNKT telah menjanjikan laporan komprehensif dalam beberapa minggu ke depan. Sementara itu, pihak berwenang daerah diminta untuk mempercepat pemasangan rambu peringatan, penghalang fisik, serta peningkatan sistem deteksi otomatis di titik‑titik rawan.
Para pakar transportasi menekankan pentingnya sinergi antara operator kereta api, perusahaan taksi, dan pemerintah daerah untuk mengatasi “anomali jalanan” ini. Tanpa koordinasi yang kuat, risiko kecelakaan serupa dapat terus berulang, mengancam keselamatan ribuan pengguna jalan setiap harinya.







