Frankenstein45.Com – 09 Mei 2026 | Seorang dokter magang di sebuah rumah sakit pemerintah dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami kelelahan ekstrem yang diduga kuat diakibatkan oleh jadwal kerja tanpa jeda istirahat. Kasus ini memicu keprihatinan luas di kalangan tenaga medis dan menimbulkan sorotan terhadap praktik kerja berlebihan di institusi kesehatan.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Sahroni, menuntut penyelidikan menyeluruh dari pihak Kepolisian Republik Indonesia serta Kementerian Kesehatan. Ia menekankan bahwa setiap potensi pelanggaran, baik oleh rumah sakit maupun dokter pendamping yang mengawasi magang, harus ditelusuri secara mendalam.
- Pengajuan permohonan penyelidikan resmi kepada Polri.
- Permintaan audit kepatuhan prosedur kerja kepada Kemenkes.
- Peninjauan kembali kebijakan penugasan dokter magang tanpa jaminan cuti yang memadai.
Selain menuntut keadilan bagi korban, Sahroni mengingatkan bahaya budaya senioritas yang kerap menekan mental tenaga medis. Sistem hierarki ketat sering kali membuat dokter muda enggan mengungkapkan keluhan terkait beban kerja, takut dianggap lemah atau mengganggu proses belajar.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, melainkan juga menurunkan kesejahteraan psikologis, meningkatkan risiko burnout, depresi, dan bahkan fatalitas. Oleh karena itu, perlu ada regulasi yang menegakkan hak istirahat wajib bagi semua tenaga kesehatan, terlepas dari jabatan atau lama masa kerja.
Jika penyelidikan mengungkap adanya pelanggaran, diharapkan konsekuensi hukum yang tegas dapat menjadi contoh bagi institusi lain. Hal ini diharapkan dapat memicu reformasi budaya kerja di sektor kesehatan, menjamin lingkungan yang lebih aman, manusiawi, dan produktif bagi para profesional medis.




