Dorong Industri Baterai Nikel, Indonesia Bidik Kemandirian Energi
Dorong Industri Baterai Nikel, Indonesia Bidik Kemandirian Energi

Dorong Industri Baterai Nikel, Indonesia Bidik Kemandirian Energi

Frankenstein45.Com – 26 April 2026 | Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai produsen nikel terbesar di dunia dengan harapan mengubah logam tersebut menjadi komponen utama baterai listrik. Upaya ini dipercepat oleh Ikatan Alumni Geologi Institut Teknologi Bandung (IAGL ITB) yang menyerukan pemerintah untuk memperkuat ekosistem industri baterai dalam negeri.

Komoditas Produksi (Mt) Potensi Baterai (GWh)
Nikel 1,1 ≈ 300
Lithium 0,02 ≈ 50

IAGL ITB menekankan bahwa pencapaian kemandirian energi tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku, melainkan juga pada pengembangan rantai nilai lengkap, termasuk penambangan, pemurnian, pembuatan sel, serta daur ulang.

Beberapa rekomendasi yang diajukan oleh IAGL ITB antara lain:

  • Penetapan regulasi yang mempermudah investasi di sektor downstream, khususnya pabrik pembuatan sel baterai.
  • Pemberian insentif fiskal dan non‑fiskal bagi perusahaan yang mengadopsi teknologi bersih dan ramah lingkungan.
  • Peningkatan kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri untuk mempercepat inovasi material dan proses produksi.
  • Pembangunan infrastruktur logistik khusus untuk transportasi bahan baku dan produk jadi, termasuk pelabuhan hijau dan zona industri terpadu.
  • Pengembangan program pelatihan tenaga kerja terampil yang dapat mendukung produksi massal baterai.

Pemerintah telah menargetkan agar pada tahun 2030 sekitar 20% kebutuhan energi listrik nasional dapat dipenuhi oleh energi terbarukan, dengan harapan pada 2045 Indonesia dapat mencapai net‑zero emissions. Pengembangan industri baterai nikel dipandang sebagai salah satu pilar utama untuk mewujudkan target tersebut, mengingat kendaraan listrik (EV) dan penyimpanan energi terdistribusi akan membutuhkan jutaan kilowatt‑jam baterai setiap tahunnya.

Selain itu, kebijakan “Made in Indonesia” yang diusung dalam Rencana Induk Pemerataan Ekonomi (RIPE) menekankan pentingnya meningkatkan nilai tambah produk domestik. Dengan menumbuhkan industri baterai dalam negeri, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan impor baterai, tetapi juga membuka peluang ekspor komponen baterai ke pasar global yang semakin kompetitif.

Para pengamat menilai bahwa keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada sinergi antara kebijakan pemerintah, dukungan keuangan, serta kesiapan sumber daya manusia. Jika semua elemen tersebut dapat terkoordinasi, Indonesia berpotensi menjadi salah satu hub baterai terbesar di Asia, sekaligus mempercepat transisi energi bersih nasional.