Frankenstein45.Com – 03 April 2026 | Jakarta, 3 April 2026 – Aktor populer Ammar Zoni kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan masa kelam kehidupannya dalam pledoi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pengakuan yang menggetarkan ini tidak hanya mencakup kecanduan narkoba yang berkepanjangan, melainkan juga upaya putus asa untuk melarikan diri ke luar negeri, termasuk rencana singkat ke Malaysia, yang akhirnya dibatalkan karena rasa takut yang menggelayuti dirinya.
Latar Belakang Kasus Narkoba
Ammar, berusia 32 tahun, pertama kali terjerat narkoba pada tahun 2017. Meskipun sempat menjalani rehabilitasi, ia mengakui bahwa kecanduan tersebut kembali menghantuinya dalam rentang waktu enam bulan hingga dua tahun setelah keluar dari fasilitas pemulihan. Pada pledoi yang dibacanya pada 2 April 2026, Ammar menuturkan bahwa rasa hampa di balik popularitasnya menjadi pemicu utama konsumsi zat terlarang.
Pengakuan di Pengadilan
Dalam suasana ruang sidang yang tegang, Ammar menyampaikan, “Di dalam semua kesenangan, kemewahan serta popularitas, entah kenapa saya selalu merasa kosong. Saya selalu merasa ada yang kurang.” Ia menambahkan bahwa narkoba memberinya sensasi “tenang” yang seakan‑seakan mengisi kekosongan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan tersebut bukan untuk bersenang‑senang, melainkan sebagai pelarian pribadi.
Kegagalan Rehabilitasi dan Relaps di Luar Negeri
Setelah keluar dari rehab, Ammar mengaku kembali terjerumus ke dunia narkoba saat bekerja di Thailand, di mana ganja legal. “Saya relaps lagi, jatuh lagi,” ujar ia dengan nada penyesalan. Di tengah tekanan pekerjaan dan ketakutan akan sorotan media, Ammar sempat merencanakan pelarian ke Malaysia, mengira negara tetangga tersebut dapat menjadi tempat aman untuk menghindari penangkapan dan menyembunyikan diri. Namun, pada malam sebelum keberangkatan, rasa takut akan konsekuensi hukum dan stigma sosial membuatnya membatalkan rencana tersebut dan kembali ke Indonesia.
Dampak pada Keluarga dan Perceraian
Kisah kelam ini semakin menyentuh ketika Ammar mengingat tragedi pribadi: pada tahun 2022, ia dan mantan istri Irish Bella dikaruniai bayi kembar yang meninggal saat dilahirkan di depan matanya. Kejadian itu memicu kembali penggunaan narkoba sebagai pelarian. Meskipun sempat harapan baru muncul ketika kelahiran anak bungsu, hubungan rumah tangga mereka terus tergerus. Irish Bella mengajukan gugatan cerai, yang kemudian menjadi titik terendah bagi Ammar. “Saya tidak akan ada kata bercerai dalam hidup saya,” katanya, namun permohonannya tidak mengubah keputusan mantan istri.
Upaya Hukum dan Prospek Kedepan
Pihak kepolisian telah menahan Ammar untuk kedua kalinya terkait pelanggaran narkoba. Dalam proses persidangan, hakim menegaskan pentingnya rehabilitasi berkelanjutan dan dukungan psikologis. Ammar mengaku menolak untuk kembali ke psikiater karena takut publik mengetahui kelemahannya, namun ia kini menyadari bahwa bantuan profesional adalah satu‑satunya jalan keluar.
Pengakuan terbuka ini membuka wacana lebih luas tentang tekanan yang dihadapi publik figur, terutama ketika mereka bergulat dengan kecanduan. Pemerintah dan lembaga swasta diharapkan dapat meningkatkan akses rehabilitasi yang tidak hanya bersifat medis, tetapi juga psikologis, sehingga kasus serupa dapat dicegah di masa depan.
Dengan segala kerumitan yang melingkupi kehidupan pribadi dan profesionalnya, Ammar Zoni kini berada di persimpangan pilihan: melanjutkan perjuangan melawan kecanduan dengan dukungan penuh atau terus terjebak dalam bayang‑bayang masa lalu yang menghantui. Hanya waktu yang akan menjawab apakah ia mampu bangkit kembali menjadi contoh perubahan bagi mereka yang berada di jalur serupa.







