Frankenstein45.Com – 29 Mei 2026 | Episode ketujuh Perfect Crown kembali mencuri perhatian publik tidak hanya karena alur cerita yang menegangkan, melainkan juga karena polemik yang meluas sejak penayangan pertama. Serial berbudget tinggi ini menampilkan visual megah, bintang besar seperti IU (Seong Hui‑ju) dan Byeon Woo‑seok (Pangeran I‑an), serta premis menarik tentang monarki modern Korea Selatan. Namun, di balik kemewahan set dan kostum, drama ini mendapat kecaman publik atas penggambaran upacara naik takhta yang dianggap keliru.
Kontroversi Upacara Kerajaan
Sejumlah penonton Korea melaporkan protes terhadap adegan upacara penobatan yang menampilkan detail seremonial, dialog, dan kostum yang tidak akurat. Kritik tersebut memunculkan petisi daring yang menuntut penghapusan drama dari jaringan MBC. Menanggapi, pihak produksi, rumah produksi, dan stasiun televisi secara serempak mengeluarkan permintaan maaf, bahkan MBC memutuskan untuk mengedit ulang bagian yang dipermasalahkan.
Kritik ini muncul dalam konteks sensitivitas sejarah Korea yang masih dipengaruhi trauma kolonialisme, pendudukan, dan perang. Bagi sebagian warga, representasi simbol negara dan ritual tradisional bukan sekadar estetika, melainkan soal martabat nasional dan ingatan kolektif. Meskipun Perfect Crown secara eksplisit merupakan fiksi alternatif yang membayangkan Korea Selatan tetap dipimpin monarki, publik menilai bahwa penyajian upacara kerajaan harus menghormati keotentikan budaya.
Plot Utama Episode 7
Episode ini menyoroti konflik internal Seong Hui‑ju, CEO Castle Beauty, yang berjuang mempertahankan posisinya di tengah persaingan keluarga. Hui‑ju, yang merasa diperlakukan tidak adil sebagai anak di luar nikah dan sebagai perempuan, harus menghadapi saudara tirinya Seong Tae‑ju yang tidak kompeten. Dalam upayanya mengukuhkan kekuasaan, Hui‑ju mempertimbangkan pernikahan strategis, namun belum menemukan pasangan yang tepat.
Masuknya Pangeran I‑an, adik raja yang baru meninggal, menambah dinamika. I‑an hidup dalam rutinitas istana yang kaku, hanya memiliki ajudan bernama Choi Hyeon sebagai satu-satunya teman. Kedatangan Hui‑ju yang tiba‑tiba melamar I‑an mengubah kesehariannya, menimbulkan ketegangan politik dan romansa yang belum terdefinisi. Penonton disuguhkan adegan yang menggabungkan intrik bisnis dengan intrik istana, serta perbandingan tak terhindarkan dengan drama klasik Princess Hours yang diangkat dari komik Goong.
Pengaruh Penampilan Byeon Woo‑seok di Variety Show
Sementara kontroversi drama terus mengemuka, kehadiran Byeon Woo‑seok dalam variety show Netflix Jae‑seok’s B&B Rules! menjadi sorotan tambahan. Dalam acara tersebut, Yoo Jae‑suk memerankan kepala penginapan yang mengelola tamu selama tiga hari dua malam, dengan Byeon sebagai salah satu staf yang sering kali menampilkan sisi lebih “terjangkau” dibandingkan karakter pangeran agungnya di Perfect Crown. Penonton melihat kontras antara citra cool sang aktor di layar drama dan kepribadiannya yang lebih santai di variety show, menambah dimensi publik terhadap karakternya.
Interaksi antara Byeon, Lee Kwang‑Soo, dan Yoo Jae‑suk menciptakan momen komedi yang mengalihkan perhatian sebagian penonton dari kritik drama, sekaligus memperluas jangkauan popularitas para aktor. Keberhasilan episode-varietas ini menegaskan bahwa meski drama utama berada dalam sorotan negatif, para pemeran tetap mampu mempertahankan relevansi melalui platform hiburan lain.
Reaksi Industri dan Penonton
Para kritikus menilai bahwa Perfect Crown terlalu terfokus pada tampilan elegan, sehingga mengorbankan pengembangan romansa dan konflik yang terasa hidup. Sementara visual mewah dan produksi kelas atas tetap menjadi nilai jual, penonton mengharapkan narasi yang lebih mendalam dan sensitif terhadap budaya. Produser kini dihadapkan pada tantangan menyeimbangkan estetika dengan akurasi budaya, terutama mengingat drama ini berpotensi menjadi contoh bagi produksi serupa di masa depan.
Di sisi lain, keberhasilan Jae‑seok’s B&B Rules! menunjukkan kekuatan lintas platform dalam menguatkan citra artis Korea. Penonton yang awalnya tertarik pada drama karena kontroversi kini dapat menikmati sisi lain dari para bintang melalui format reality yang lebih ringan.
Secara keseluruhan, episode ketujuh Perfect Crown menjadi titik balik yang menyoroti pentingnya tanggung jawab produksi dalam menggambarkan warisan budaya, sekaligus menegaskan peran media hiburan lain dalam membentuk persepsi publik terhadap aktor utama. Dengan revisi konten yang sedang berlangsung dan popularitas varietas yang terus naik, masa depan drama ini masih terbuka, menunggu respons lanjutan dari penonton dan regulator.







