Frankenstein45.Com – 10 Mei 2026 | Ekonom Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, menegaskan bahwa konsistensi produksi pangan nasional akan menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas inflasi menjelang tahun 2026. Dalam sebuah wawancara, ia menguraikan bahwa fluktuasi pasokan pangan dapat memicu kenaikan harga barang konsumsi, yang pada gilirannya menambah tekanan inflasi.
- Peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi pertanian modern.
- Penguatan rantai pasok dari petani ke pasar akhir, termasuk infrastruktur penyimpanan dan distribusi.
- Dukungan kebijakan yang stabil, seperti subsidi benih, pupuk, dan akses pembiayaan yang terjangkau.
Ia juga menyoroti bahwa ketahanan pangan tidak hanya berdampak pada harga beras, tetapi juga pada komoditas lain seperti jagung, kedelai, dan sayuran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi makanan pada kuartal pertama 2024 mengalami kenaikan 1,8 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang sebagian besar dipicu oleh volatilitas produksi.
| Komoditas | Perubahan Produksi 2023‑2024 | Pengaruh pada Inflasi |
|---|---|---|
| Beras | -2,5 % | Naik 0,6 % |
| Jagung | -1,8 % | Naik 0,4 % |
| Kedelai | -3,0 % | Naik 0,5 % |
Pemerintah telah meluncurkan program “Pangan Berkelanjutan 2025” yang mencakup peningkatan lahan pertanian produktif, pengembangan varietas tahan iklim, serta skema asuransi tanaman bagi petani kecil. Triaswati menilai program ini dapat berkontribusi signifikan bila diimplementasikan secara konsisten hingga 2026.
Ia menutup dengan catatan bahwa selain kebijakan, peran sektor swasta dan lembaga keuangan juga krusial. Investasi dalam agritech, serta pembiayaan yang mudah diakses, dapat mempercepat modernisasi pertanian sehingga produksi tetap stabil meski menghadapi tantangan iklim.




