Frankenstein45.Com – 10 Mei 2026 | Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Pemerintah Kabupaten Magetan meluncurkan program intensif untuk meningkatkan penyerapan telur peternak lokal. Inisiatif ini bertujuan menstabilkan harga pasar, memperluas jaringan distribusi, serta memberikan kepastian pendapatan bagi peternak telur di wilayah Jawa Timur.
Program tersebut mencakup beberapa langkah utama:
- Pendirian pusat pengumpulan telur di setiap kecamatan Magetan dengan fasilitas pendingin untuk menjaga kualitas produk.
- Pemberian harga beli minimum yang dijamin oleh pemerintah daerah, sehingga peternak tidak perlu khawatir terhadap fluktuasi harga.
- Penyediaan pelatihan manajemen peternakan dan pemasaran bagi peternak melalui kerja sama dengan Bapanas.
- Peningkatan akses logistik melalui armada kendaraan khusus yang menghubungkan titik pengumpulan dengan pasar tradisional dan supermarket di Surabaya serta kota-kota besar lainnya.
Dalam rapat koordinasi yang dihadiri oleh Menteri Pertanian, Kepala Bapanas, dan Bupati Magetan, disampaikan bahwa program ini akan mulai berjalan pada kuartal kedua 2024 dan akan dievaluasi setiap tiga bulan.
“Kami berharap program ini dapat menurunkan biaya distribusi dan meningkatkan kesejahteraan peternak,” kata Menteri Pertanian dalam sambutan resmi. Sementara itu, perwakilan peternak setempat menyatakan antusiasme tinggi karena program ini membuka peluang pasar yang lebih luas dan menjamin pendapatan yang lebih stabil.
Selain meningkatkan penyerapan telur, program ini juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan meningkatkan volume telur yang diproduksi dan didistribusikan secara efisien, Kementan dan Bapanas menargetkan penurunan impor telur hingga 15 persen dalam dua tahun ke depan.
Pengawasan kualitas akan dilakukan secara rutin oleh tim gabungan Kementan‑Bapanas, termasuk inspeksi kebersihan, suhu penyimpanan, dan standar keamanan pangan. Semua hasil inspeksi akan dipublikasikan secara transparan melalui portal resmi pemerintah.
Jika berhasil, model penyerapan ini dapat direplikasi di kabupaten lain yang memiliki potensi produksi telur tinggi.




