Frankenstein45.Com – 28 Mei 2026 | Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi sorotan utama setelah serangkaian tekanan eksternal dan domestik mengguncang pasar keuangan. Para ekonom menekankan bahwa upaya menyeimbangkan kebijakan fiskal dan moneter merupakan kunci untuk mengembalikan kepercayaan investor dan mendorong rebound nilai tukar.
Bank Indonesia (BI) memang memegang peran penting dalam mengatur suku bunga, intervensi pasar, dan cadangan devisa. Namun, kebijakan moneter saja tidak cukup bila kebijakan fiskal pemerintah tidak selaras. Defisit anggaran yang tinggi, belanja yang tidak produktif, serta kebijakan pajak yang belum optimal dapat menambah tekanan pada permintaan mata uang asing.
- Kebijakan fiskal yang mendukung: Pengendalian defisit melalui penyesuaian belanja publik, peningkatan efisiensi pengumpulan pajak, dan pengalokasian dana untuk proyek‑proyek produktif dapat mengurangi kebutuhan pembiayaan eksternal.
- Kebijakan moneter yang responsif: Penyesuaian suku bunga yang tepat, intervensi pasar yang terukur, serta pengelolaan likuiditas yang hati‑hati membantu menstabilkan ekspektasi inflasi.
- Sinergi keduanya: Koordinasi yang erat antara Kementerian Keuangan dan BI memungkinkan penyesuaian kebijakan secara dinamis sesuai dengan kondisi ekonomi global dan domestik.
Jika kebijakan fiskal berhasil menurunkan defisit dan meningkatkan produktivitas, beban pada BI untuk menjaga nilai tukar akan berkurang. Hal ini dapat membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih lunak tanpa mengorbankan stabilitas harga, sehingga memperkuat rupiah secara berkelanjutan.
Para analis juga menyoroti beberapa indikator yang perlu dipantau:
| Indikator | Target Positif |
|---|---|
| Defisit Anggaran | < 3% PDB |
| Inflasi | 4‑5% tahun berjalan |
| Kurs Rupiah | Stabil di kisaran 14.000‑14.500 per USD |
Dengan kombinasi kebijakan yang seimbang, para ekonom memperkirakan rupiah memiliki potensi untuk kembali menguat, mengurangi volatilitas, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.




