Frankenstein45.Com – 27 Juni 2026 | Industri game di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan, didorong oleh dukungan Ekonomi Kreatif (EKRAF) serta adopsi metode pembayaran digital yang semakin luas.
Berbagai riset memperkirakan nilai pasar game domestik akan mencapai Rp 26,9 triliun pada akhir 2026, menandakan pertumbuhan tahunan rata‑rata di atas 20 persen sejak 2020.
| Tahun | Nilai Pasar (Rp Triliun) |
|---|---|
| 2020 | 12,5 |
| 2022 | 17,8 |
| 2024 | 22,3 |
| 2026 (prediksi) | 26,9 |
Faktor utama yang mendorong pertumbuhan meliputi:
- Peningkatan penetrasi smartphone dan koneksi internet cepat.
- Popularitas model bisnis free‑to‑play dengan pembelian dalam aplikasi.
- Kemudahan pembayaran melalui e‑wallet, kartu kredit, dan layanan fintech.
- Ekspansi developer lokal ke pasar global melalui platform distribusi internasional.
Beberapa studio game Indonesia, seperti Agate, Toge Productions, dan Linggar Studios, telah meluncurkan judul yang meraih pendapatan jutaan dolar di luar negeri, menegaskan daya saing produk lokal.
Selain itu, pemerintah melalui program EKRAF memberikan insentif berupa pelatihan, pendanaan, serta fasilitas inkubator bagi startup game, sehingga ekosistem kreatif semakin terstruktur.
Para analis memperkirakan bahwa pada 2027, Indonesia dapat masuk dalam lima besar pasar game terbesar di Asia, bersaing dengan negara‑negara seperti Korea Selatan dan Jepang.
Dengan dukungan kebijakan, inovasi pembayaran, serta kreativitas developer, prospek industri game Indonesia tampak cerah dan berpotensi menjadi kontributor utama pertumbuhan EKRAF.







