Empat Guru Besar Untirta Angkat Isu Digital, Ekonomi, Pendidikan, dan Keselamatan Kerja, Sementara Mahasiswa Terlibat Reboisasi Pulosari
Empat Guru Besar Untirta Angkat Isu Digital, Ekonomi, Pendidikan, dan Keselamatan Kerja, Sementara Mahasiswa Terlibat Reboisasi Pulosari

Empat Guru Besar Untirta Angkat Isu Digital, Ekonomi, Pendidikan, dan Keselamatan Kerja, Sementara Mahasiswa Terlibat Reboisasi Pulosari

Frankenstein45.Com – 21 April 2026 | Senin, 20 April 2026, Senat Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menyelenggarakan Sidang Terbuka di Auditorium Kampus Sindangsari, Kabupaten Serang, untuk mengukuhkan empat guru besar baru. Acara yang dipimpin Ketua Senat Rudi Zulfikar itu dihadiri langsung Rektor Fatah Sulaiman, jajaran pimpinan universitas, anggota senat, tokoh daerah Banten, serta keluarga dan tamu para akademisi yang akan dianugerahi gelar tertinggi.

Empat Akademisi, Empat Bidang Strategis

Keempat guru besar yang resmi diangkat adalah Helmi Yazid, Indra Suhendra, Cecep Anwar Hadi Firdos Santosa, dan Lovely Lady. Mereka masing‑masing mewakili bidang yang tengah menjadi fokus transformasi nasional.

  • Helmi Yazid – Guru Besar bidang Pengauditan (Audit Internal) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dalam orasi ilmiahnya, ia menyoroti perubahan paradigma audit di era digital, menekankan peran kecerdasan buatan dan teknologi blockchain dalam mengubah praktik audit dari pendekatan historis menjadi prediktif dan preventif.
  • Indra Suhendra – Guru Besar bidang Ekonomi Pembangunan, juga dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ia memaparkan potensi ekonomi digital sebagai motor pertumbuhan regional, menekankan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dapat meningkatkan efisiensi produksi, memperluas akses pasar, dan melahirkan model bisnis inovatif.
  • Cecep Anwar Hadi Firdos Santosa – Guru Besar bidang Pembelajaran Matematika Tingkat Lanjut (Kalkulus Peubah Banyak) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Santosa menekankan kesenjangan antara kemampuan prosedural mahasiswa dengan pemahaman konseptual yang mendalam, serta pentingnya metode pengajaran yang mengintegrasikan teknologi interaktif.
  • Lovely Lady – Guru Besar bidang Ergonomi serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Fakultas Teknik. Ia menekankan perlunya standar kerja yang mengedepankan kesehatan pekerja, khususnya di sektor industri dan konstruksi yang berkembang pesat di Banten.

Rector Fatah Sulaiman menegaskan bahwa penambahan empat guru besar ini meningkatkan total guru besar Untirta menjadi 56 orang, menandakan komitmen universitas dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Mahasiswa Untirta Bergiat di Pulosari: Reboisasi dan Edukasi Lingkungan

Tak hanya di ruang akademik, mahasiswa Untirta juga memperlihatkan peran aktif di bidang lingkungan. Pada Minggu, 19 April 2026, kelompok pecinta alam bersama Asosiasi Olahraga Pendakian Gunung Indonesia (AOPGI) melaksanakan aksi reboisasi di kawasan Gunung Pulosari, Banten. Salah satu peserta yang menonjol adalah Erlinda Putri, mahasiswa yang sekaligus menyoroti pentingnya pendidikan lingkungan dalam proses penanaman bibit pohon endemik.

Erlinda menjelaskan bahwa penanaman pohon tidak hanya bertujuan menambah tutupan hutan, melainkan juga mendukung perekonomian lokal melalui ekowisata. Ia menekankan perlunya edukasi tentang spesies yang ditanam, perawatan pasca‑tanam, serta kontrol hama agar ekosistem dapat pulih dan mengurangi risiko longsor.

Keterlibatan mahasiswa Untirta dalam kegiatan tersebut mencerminkan sinergi antara ilmu yang diajarkan di kampus—misalnya ergonomi kerja dan keselamatan kerja yang dipelajari di Fakultas Teknik—dengan praktik lapangan yang berkelanjutan. Pengalaman lapangan ini diharapkan memperkaya wawasan mahasiswa, khususnya mereka yang menekuni bidang teknik lingkungan dan manajemen sumber daya alam.

Implikasi bagi Pengembangan Kampus dan Masyarakat

Pengukuhan guru besar di bidang digital audit, ekonomi digital, dan pendidikan matematika sekaligus aksi reboisasi yang melibatkan mahasiswa menegaskan posisi Untirta sebagai pusat inovasi multidisiplin. Transformasi digital yang dibahas Helmi Yazid dapat memperkuat tata kelola keuangan institusi, sementara wawasan Indra Suhendra tentang ekonomi digital membuka peluang kolaborasi antara kampus dan industri teknologi di Banten.

Di sisi lain, fokus Lovely Lady pada ergonomi dan K3 berpotensi meningkatkan standar keselamatan pada proyek-proyek infrastruktur daerah, termasuk kegiatan penanaman pohon yang memerlukan perencanaan kerja yang aman. Integrasi antara riset akademik dan aksi sosial ini memberikan contoh konkret bagaimana perguruan tinggi dapat menjadi agen perubahan yang holistik.

Secara keseluruhan, langkah strategis Untirta dalam memperkuat sumber daya manusia unggul serta memberdayakan mahasiswa dalam program lingkungan menegaskan komitmen universitas terhadap pembangunan berkelanjutan. Dengan dukungan pemerintah daerah dan partisipasi aktif civitas akademika, diharapkan kontribusi Untirta akan semakin terasa dalam meningkatkan kualitas pendidikan, inovasi teknologi, serta kelestarian alam di Provinsi Banten.