Fatahillah Bebaskan Sunda Kelapa, Jan Pieterszoon Coen Hancurkan Jayakarta dan Bangun Batavia

Frankenstein45.Com – 23 Juni 2026 | Jakarta, yang akan merayakan ulang tahun ke-500 pada tahun 2026, memiliki jejak sejarah yang jauh lebih panjang daripada perayaan resmi yang dimulai pada tahun 1956. Dua tokoh penting, Fatahillah dan Jan Pieterszoon Coen, masing-masing memainkan peran krusial dalam pembentukan identitas kota ini.

Fatahillah dan Pembebasan Sunda Kelapa

Pada awal abad ke-16, kepulauan Nusantara menjadi medan persaingan antara bangsa Eropa. Portugis berhasil menguasai pelabuhan penting Sunda Kelapa pada tahun 1522, memanfaatkan posisi strategisnya untuk mengendalikan perdagangan rempah. Namun, tidak lama kemudian, seorang pemimpin lokal bernama Fatahillah memimpin pasukan Kesultanan Demak dalam upaya merebut kembali pelabuhan tersebut.

Pertempuran yang terjadi pada tahun 1527 berhasil menggulingkan kekuasaan Portugis, dan Sunda Kelapa kembali berada di bawah kendali lokal. Keberhasilan ini tidak hanya mengembalikan kontrol perdagangan, tetapi juga menegaskan perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme awal.

Jan Pieterszoon Coen dan Transformasi Jayakarta menjadi Batavia

Lebih dari satu abad setelah peristiwa Fatahillah, Belanda lewat VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) semakin memperkuat posisinya di wilayah Nusantara. Pada tahun 1629, gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen melancarkan serangan besar-besaran terhadap Jayakarta, kota yang kemudian menjadi pusat perdagangan VOC.

Serangan tersebut mengakibatkan penghancuran total Jayakarta, dan Coen memerintahkan pembangunan kembali kota dengan desain kota Belanda yang teratur. Kota baru itu dinamai Batavia, yang menjadi ibu kota administratif VOC di Asia Tenggara. Batavia kemudian berkembang menjadi pusat ekonomi, politik, dan kebudayaan yang mempengaruhi seluruh kepulauan.

Warisan Sejarah bagi Jakarta Modern

Kedua peristiwa ini – pembebasan Sunda Kelapa oleh Fatahillah dan pembangunan Batavia oleh Coen – menjadi fondasi sejarah Jakarta. Nama “Jakarta” sendiri diambil dari “Jayakarta” yang berarti “kemenangan yang bersinar”. Meskipun nama berubah seiring waktu, jejak perjuangan dan kolonialisasi tetap menjadi bagian penting dalam narasi kota.

Memperingati hampir lima abad keberadaan kota ini, penting bagi masyarakat untuk mengenali akar sejarah yang meliputi perlawanan lokal, pengaruh kolonial, dan transformasi urban yang terus berlanjut hingga kini.