Ferdinand Hutahaean: Jokowi Khianati Prabowo demi Ambisi Politik Keluarga 2029
Ferdinand Hutahaean: Jokowi Khianati Prabowo demi Ambisi Politik Keluarga 2029

Ferdinand Hutahaean: Jokowi Khianati Prabowo demi Ambisi Politik Keluarga 2029

Frankenstein45.Com – 29 Mei 2026 | Politisi senior PDI Perjuangan, Ferdinand Hutahaean, menuding Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai pengkhianat politik yang mengkhianati mantan lawan politiknya, Prabowo Subianto. Menurut Hutahaean, langkah Jokowi untuk melakukan “safari politik” ke sejumlah daerah pada akhir tahun ini bukan sekadar agenda kampanye, melainkan strategi mempersiapkan ambisi politik keluarganya menjelang pemilihan umum 2029.

Hutahaean menegaskan bahwa Jokowi secara terang-terangan menyingkirkan dukungan Prabowo yang sebelumnya masih berada di dalam lingkup koalisi luas. Ia menilai bahwa sikap tersebut mengindikasikan perubahan paradigma dari pemimpin yang dulu mengedepankan konsensus menjadi sosok yang mengutamakan kepentingan pribadi dan keluarganya.

Alasan di Balik Tuduhan

  • Safari politik: Jokowi dijadwalkan mengunjungi provinsi-provinsi strategis seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Hutahaean berpendapat kunjungan ini bertujuan menggalang dukungan bagi calon potensial dari lingkaran keluarga Presiden untuk pemilu 2029.
  • Penghilangan dukungan Prabowo: Sejak awal 2024, aliansi tak resmi antara PDIP dan Gerindra mulai merenggang. Hutahaean menilai langkah Jokowi memutuskan hubungan dengan Prabowo merupakan upaya mengkonsolidasikan basis pemilih bagi calon yang diusung oleh jaringan politik keluarganya.
  • Persiapan generasi berikutnya: Menurut Hutahaean, ada indikasi bahwa Jokowi menyiapkan putra atau kerabat dekatnya untuk mengisi posisi strategis, baik di partai maupun pemerintahan, sehingga memerlukan dukungan politik yang kuat pada pemilu 2029.

Reaksi dan Implikasi

Penilaian Hutahaean menuai beragam respons. Sebagian tokoh politik menilai tuduhannya masih bersifat politis dan belum didukung bukti konkret, sementara kelompok pengamat politik menganggap pernyataan ini mencerminkan dinamika internal partai yang semakin kompleks.

Jika dugaan tersebut benar, konsekuensinya dapat memengaruhi peta koalisi menjelang pemilu 2029, mempersempit ruang gerak Gerindra, serta meningkatkan ketegangan antara elit politik tradisional dan calon-calon baru yang berafiliasi dengan keluarga presiden.

Hutahaean menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas bagi semua pihak yang terlibat dalam proses demokrasi, agar kepentingan pribadi tidak mengesampingkan kepentingan bangsa.