Frankenstein45.Com – 24 Juni 2026 | Bangunan‑bangunan yang didirikan oleh VOC di Batavia pada abad ke‑17 hingga ke‑18 memang menampilkan arsitektur megah, namun satu aspek penting sering terabaikan: fasilitas toilet. Pemerintahan VOC, melalui Gubernur Jenderal, menerbitkan peraturan yang melarang penduduk, terutama warga Eropa, menggunakan air Ciliwung untuk keperluan pribadi, termasuk buang air kecil atau besar. Akibatnya, hampir semua gedung resmi, rumah dagang, dan kantor pemerintahan tidak dilengkapi dengan WC internal.
Penggunaan sungai Ciliwung sebagai “toilet umum” menjadi solusi pragmatis pada masa itu. Warga Eropa diminta membuang limbah mereka langsung ke aliran sungai, sementara penduduk pribumi dilarang melakukannya. Kebijakan ini menimbulkan ketegangan sosial dan memperparah pencemaran lingkungan, namun dianggap efektif oleh otoritas VOC untuk mempertahankan kebersihan di dalam kawasan perkotaan yang terbatas.
- Larangan penggunaan WC internal: Peraturan resmi melarang pembangunan fasilitas sanitasi dalam ruangan.
- Pengalihan limbah ke sungai: Semua limbah manusia diarahkan ke Kali Ciliwung.
- Dampak lingkungan: Pencemaran air meningkat, menyebabkan penyakit menular di kalangan penduduk.
Seiring berjalannya waktu, kebijakan tersebut mulai dipertanyakan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa setelah VOC bubar, pemerintah kolonial Belanda menggantikan kebijakan sanitasi lama dengan pembangunan WC umum dan sistem pembuangan yang lebih terstruktur. Namun warisan arsitektur tanpa toilet tetap terlihat pada sejumlah bangunan peninggalan VOC yang masih berdiri hingga kini.
Fenomena ini mengingatkan kita akan pentingnya perencanaan sanitasi dalam pembangunan kota. Tanpa fasilitas dasar seperti WC, kualitas hidup dan kesehatan masyarakat dapat terancam, meskipun bangunan tampak megah secara estetika.




