Gejolak Harga Minyak Dunia: Dari Lonjakan Minyak Nabati hingga Penurunan Brent Pasca Pembukaan Selat Hormuz
Gejolak Harga Minyak Dunia: Dari Lonjakan Minyak Nabati hingga Penurunan Brent Pasca Pembukaan Selat Hormuz

Gejolak Harga Minyak Dunia: Dari Lonjakan Minyak Nabati hingga Penurunan Brent Pasca Pembukaan Selat Hormuz

Frankenstein45.Com – 18 April 2026 | Pasar energi global mengalami dinamika tajam pada pekan pertama April 2026. Di satu sisi, indeks harga minyak nabati mencatat kenaikan tiga bulan beruntun, sementara harga minyak mentah Brent dan WTI turun signifikan setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz. Pergerakan ini menimbulkan tekanan pada inflasi pangan sekaligus menggerakkan indeks saham utama di Amerika Serikat.

Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), indeks harga minyak nabati mencapai 183,1 poin pada Maret 2026, naik 5,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan 13,2 persen secara tahunan. Kenaikan dipicu oleh lonjakan harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed, yang semuanya dipengaruhi oleh ketegangan pasokan global dan harga energi yang tinggi. Harga minyak nabati yang lebih mahal berpotensi menambah beban inflasi pangan, terutama di negara‑negara importir utama.

Sementara itu, pasar minyak mentah menunjukkan tren berlawanan. Pada Jumat 17 April 2026, harga Brent turun 1,34 dolar atau 1,35 persen menjadi US$98,05 per barel, dan WTI turun 1,65 dolar atau 1,74 persen menjadi US$93,40 per barel. Penurunan ini didorong oleh optimisme bahwa konflik Timur Tengah akan mereda setelah pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Pembukaan Selat Hormuz, yang sebelumnya menahan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, mengurangi kekhawatiran pasokan dan memicu penurunan tajam harga energi. Analis ING memperkirakan bahwa gangguan aliran minyak akibat penutupan Selat mencapai 13 juta barel per hari; pembukaan kembali jalur tersebut mengembalikan kepercayaan pasar.

Reaksi pasar saham AS mencerminkan sentimen positif. Indeks S&P 500 mencatat penutupan tertinggi baru pada 7.126,06 poin, naik 1,20 persen, sementara Nasdaq Composite naik 1,52 persen ke 24.468,48 poin. Dow Jones Industrial Average melaju 1,79 persen ke 49.447,43 poin. Kenaikan dipicu oleh ekspektasi penurunan biaya energi yang dapat meredam tekanan inflasi global.

Data Harga Penting

  • Indeks Minyak Nabati FAO: 183,1 poin (+5,1% MoM, +13,2% YoY)
  • Brent (ICE): US$98,05/barel
  • WTI (NYMEX): US$93,40/barel
  • Indonesian Crude Price (ICP) Maret 2026: US$102,26/barel (kenaikan US$33,47 dibanding Februari)
  • Basket OPEC: US$116,03/barel

Indonesia juga merasakan dampak kenaikan harga minyak mentah. Pemerintah menetapkan ICP Maret 2026 pada US$102,26 per barel, melampaui perkiraan APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Kenaikan ini sejalan dengan tren harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta penutupan sementara Selat Hormuz.

Para pelaku pasar energi mencatat bahwa sektor energi menjadi satu‑satunya sektor besar yang tertekan dalam S&P 500, turun 2,9 persen, dipicu oleh penurunan harga minyak. Saham perusahaan minyak seperti Exxon Mobil dan Chevron masing-masing melemah 3,6 persen dan 2,2 persen. Di sisi lain, sektor konsumen non‑primer menguat, didorong oleh kenaikan saham operator kapal pesiar.

Secara keseluruhan, gejolak harga minyak dunia mencerminkan interaksi kompleks antara faktor geopolitik, kebijakan energi, dan dinamika pasar komoditas. Pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan ruang bernapas bagi pasar minyak mentah, sementara kenaikan harga minyak nabati menambah beban pada inflasi pangan global. Kebijakan pemerintah Indonesia dalam memantau dan mengendalikan harga energi domestik menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian internasional.