Frankenstein45.Com – 13 Mei 2026 | Pertandingan klasik antara Persib Bandung dan Persija Jakarta pada Minggu, 10 Mei 2026, tak hanya menghasilkan skor 1-2 yang mengundang sorak persija, tetapi juga memicu serangkaian kerusuhan di beberapa wilayah Jawa Barat. Di Cibadak, Kabupaten Sukabumi, tiga pendukung Persija yang dikenal sebagai bobotoh harus dilarikan ke IGD RSUD Sekarwangi dengan luka bakar, luka tusuk, dan patah tulang setelah menjadi sasaran serangan brutal. Kejadian serupa juga tercatat di Kuningan, di mana seorang pelajar berusia 15 tahun menjadi korban pengeroyokan.
Kekerasan Pasca Laga di Cibadak
Menurut laporan kepolisian, kerusuhan dimulai ketika massa suporter mulai membubarkan diri dari titik nonton bareng di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kampung Bantarmuncang. Dua korban pertama, TMA dan YFA, mengalami luka kepala dan cedera rusuk serius akibat pukulan dan benda tumpul. Lima belas menit kemudian, serangan berulang terjadi di Jalan Al‑Muwahidin, Desa Karangtengah, menimpa seorang pemuda berinisial M yang mengalami luka tusuk parah di kepala.
Saksi mata menggambarkan situasi menyeramkan: “Kami terjebak di perlintasan kereta yang gelap, dikepung puluhan orang yang melempar batu, botol kaca, bambu, dan kayu.” Penyerang diduga memanfaatkan minimnya penerangan untuk melancarkan aksi, sekaligus merampas atribut dan bendera suporter sebelum melanjutkan pengeroyokan.
Polisi Lakukan Mediasi di Kuningan
Menanggapi insiden serupa di Kabupaten Kuningan, Polres Kuningan mengadakan mediasi pada Senin, 11 Mei 2026, antara kelompok suporter The Jakmania (Persija) dan Viking Distrik Kuningan (Persib). Mediasi dipimpin Kasi Humas Polres Kuningan, AKP Mugiono, dan menghasilkan empat kesepakatan utama: pertanggungjawaban material dan biaya pengobatan korban oleh The Jakmania, penandatanganan surat pernyataan bersama untuk menjaga perdamaian, komitmen agar rivalitas tetap terbatas pada lapangan, serta pembentukan forum komunikasi rutin antar suporter.
“Basis massa kedua kelompok sangat rentan disalahgunakan pihak luar. Oleh karena itu, suporter harus bijak dan tidak mudah terprovokasi,” ujar Mugiono dalam konferensi pers.
Dampak pada Persija di Liga 1
Di tengah gejolak di luar lapangan, Persija Jakarta menghadapi tekanan performa di BRI Super League. Pada 12 Mei 2026, manajer tim, Ardhi Tjahjoko, secara terbuka meminta maaf atas hasil yang mengecewakan dan mengakui bahwa tim belum memenuhi target juara. Pada pekan ke‑32, Persija berada di posisi menengah klasemen dengan poin yang jauh di bawah Persib yang memimpin. Statistik gol Persija menunjukkan penurunan produktivitas, dengan hanya tiga gol dalam lima laga terakhir, menambah kekhawatiran bagi pendukung.
Reaksi Manajer, Pemain, dan Suporter
Ardhi Tjahjoko menegaskan bahwa insiden di luar stadion tidak akan memengaruhi fokus tim, namun mengimbau seluruh suporter untuk menahan diri dan tidak menambah beban psikologis pemain. Beberapa pemain senior Persija, termasuk kapten tim, mengungkapkan rasa prihatin atas cedera suporter dan menekankan pentingnya sportivitas. Sementara itu, The Jakmania mengirimkan pernyataan resmi yang menegaskan solidaritas dengan korban dan komitmen untuk memperbaiki perilaku.
Langkah Ke Depan dan Upaya Pencegahan
Polisi setempat berencana meningkatkan patroli keamanan pada pertandingan-pertandingan besar, khususnya di daerah yang sebelumnya menjadi titik rawan. Selain itu, pihak liga berjanji akan memperketat regulasi mengenai nonton bareng publik, termasuk persyaratan penerangan yang memadai dan koordinasi dengan aparat keamanan.
Para pemangku kepentingan sepak bola Indonesia, mulai dari PSSI, klub, hingga komunitas suporter, diharapkan dapat menjadikan insiden ini sebagai pelajaran berharga. Mengingat rivalitas Persib‑Persija telah menjadi ikon sepak bola nasional, menjaga keamanan dan sportivitas menjadi tanggung jawab bersama demi kelangsungan liga yang sehat.
Dengan mediasi yang telah menghasilkan kesepakatan konkret dan langkah-langkah keamanan yang sedang dipersiapkan, harapan besar tetap mengarah pada pemulihan kepercayaan publik. Jika semua pihak menegakkan komitmen tersebut, pertandingan di masa depan dapat kembali menjadi ajang sportivitas, bukan konflik.




