Frankenstein45.Com – 23 Mei 2026 | Jakarta, 23 Mei 2026 – Konflik antara aktris muda Ratu Sofya dan rumah produksi HAS Pictures kembali menghebohkan publik setelah muncul pernyataan mengejutkan dari Givina, sahabat sekaligus rekan kerja Ratu Sofya, yang mengaku sangat terkejut atas insiden saling tampar dalam proses syuting film horror terbaru berjudul Dosa Penebusan atau Pengampunan. Insiden tersebut menambah panjang deretan persoalan yang melibatkan aktris berusia 24 tahun itu, mulai dari somasi resmi, penolakan mengikuti rangkaian promosi, hingga tangisan emosional ibunya di media sosial.
Somasi dan Penolakan Promosi
HAS Pictures, rumah produksi yang dipimpin Haldy Sabri dan Irish Bella, mengirimkan surat somasi kepada Ratu Sofya pada awal Mei 2026. Surat itu menuntut kehadiran sang aktris dalam serangkaian kegiatan promosi menjelang penayangan film pada 11 Juni 2026. Menurut pernyataan Reza Aditya, juru bicara HAS Pictures, Ratu Sofya menolak ikut promosi karena merasa tidak nyaman dengan materi film yang dianggapnya mengandung adegan dewasa dan kurang menyediakan body double. Produksi membantah klaim tersebut, menyatakan proses syuting berjalan kondusif dan tidak ada unsur yang melanggar etika profesional.
Penolakan Ratu Sofya menimbulkan kerugian finansial bagi pihak produksi, mengingat film ini diharapkan menjadi salah satu karya horror/gore paling menonjol tahun ini. Film ini mengisahkan Bima (Riza Irsyadillah) dan istrinya Ersya (Ratu Sofya) yang terjebak dalam kecelakaan tragis, kemudian harus menghabiskan malam di sebuah hotel tua yang dihantui oleh makhluk tak kasat mata. Alur cerita penuh dengan darah, teror psikologis, dan konflik moral yang menantang penonton.
Givina Mengungkap Kejadian Tampar
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan portal hiburan, Givina mengungkapkan bahwa pada saat syuting adegan aksi di hotel tua, Ratu Sofya dan dirinya terlibat perselisihan fisik. “Saya tidak menyangka akan terjadi tamparan di tengah set. Ratu tampak sangat tegang, dan ketika instruksi sutradara tidak jelas, emosi kami memuncak. Saya kaget, dan langsung meminta penghentian pengambilan gambar,” ujar Givina dengan nada serius.
Givina menambahkan bahwa insiden tersebut tidak hanya mempengaruhi suasana hati para pemain, tetapi juga menambah tekanan pada tim produksi yang sudah berjuang mengatur jadwal ketat. “Kami semua ingin film ini selesai tepat waktu, namun konflik internal membuat proses menjadi lebih rumit,” katanya.
Ibu Ratu Sofya Meneteskan Air Mata
Di luar set, drama keluarga Ratu Sofya turut memanas. Intan Masthura, ibu Ratu Sofya, mengeluarkan pernyataan emosional melalui unggahan video di YouTube Reyben Entertainment. Ia mengakui bahwa putrinya telah menghilang dari rumah selama dua tahun dan menegaskan pintu rumah selalu terbuka, bahkan jika Ratu kembali dalam keadaan “bangkai pun”. “Mama menunggu Ratu, tidak peduli apa yang terjadi. Kami tetap berdoa agar Ratu kembali selamat dan kuat dalam imannya,” ujar Intan sambil terisak.
Pernyataan tersebut mendapat resonansi luas di media sosial, dengan ribuan netizen yang menyatakan dukungan kepada ibu dan putrinya. Banyak pula yang menyoroti perlunya perlindungan lebih bagi aktor muda dalam menghadapi tekanan produksi dan ekspektasi publik.
Reaksi Publik dan Dampak pada Penayangan Film
Kombinasi somasi, insiden tampar, dan drama keluarga membuat Dosa Penebusan menjadi topik hangat di kalangan netizen. Beberapa pengguna media sosial menilai bahwa produsen film harus lebih transparan dalam menyiapkan materi sensitif, sementara yang lain menilai bahwa sikap Ratu Sofya terlalu keras terhadap peran yang telah disepakati.
Meski kontroversi terus berlanjut, pihak HAS Pictures tetap optimis bahwa film akan tetap dirilis sesuai jadwal. Reza Aditya menegaskan, “Kami akan menyelesaikan segala permasalahan secara profesional, dan film ini tetap akan diputar pada 11 Juni 2026. Penonton akan menilai karya kami berdasarkan kualitas cerita, bukan drama di belakang layar.”
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari Ratu Sofya mengenai somasi atau permintaan maaf kepada tim produksi. Namun, komentar Givina yang mengakui kejadian tampar menjadi salah satu titik terang bagi publik yang mengharapkan penyelesaian damai.
Kasus ini menjadi contoh nyata betapa kompleksnya industri film Indonesia, di mana tekanan kreatif, ekspektasi publik, dan dinamika pribadi dapat bersinggungan dalam satu proyek. Penonton akan menantikan bagaimana film Dosa Penebusan akan diterima pada hari penayangan, serta apakah konflik yang terjadi akan menjadi pelajaran bagi para pelaku industri ke depan.







