Frankenstein45.Com – 14 April 2026 | Harga emas dunia kembali menunjukkan tekanan ke bawah pada awal pekan ini setelah sekian hari mengalami penguatan tipis. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi, terutama eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang menimbulkan kekhawatiran inflasi serta penguatan dolar AS.
Pergerakan Harga dan Data Pasar
Menurut data Bloomberg, pada perdagangan Senin 13 April 2026, harga emas spot (XAU) naik 0,57 persen menjadi US$4.767,10 per ons pada pukul 20.35 EDT (07.35 WIB). Namun, pada perdagangan berikutnya, harga emas spot kembali turun sekitar 0,1 hingga 0,4 persen, mencatat level US$4.728,59‑4.745,13 per ons tergantung sumber. Kontrak berjangka emas AS juga mengalami koreksi negatif, menurun 0,4‑0,7 persen ke kisaran US$4.752,20‑4.768,07 per ons.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu pendorong utama penurunan ini. Indeks dolar melemah tipis sekitar 0,1‑0,2 persen pada Senin, namun masih cukup kuat untuk membuat komoditas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Pengaruh Konflik Iran‑AS
Ketegangan geopolitik meningkat setelah militer Amerika Serikat memulai blokade di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas. Blokade ini ditujukan untuk kapal yang berhubungan langsung dengan Iran, meskipun kapal yang tidak berlayar ke atau dari pelabuhan Iran tetap diizinkan lewat. Presiden Donald Trump mengumumkan blokade pada Senin, menyebutnya sebagai respons atas kegagalan perundingan damai akhir pekan lalu.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan kesiapan negaranya melanjutkan pembicaraan damai sesuai hukum internasional, namun ancaman balasan terhadap pelabuhan negara tetangga di kawasan Teluk menambah ketidakpastian. Sementara itu, harga minyak mentah melonjak melewati US$100 per barel, memperparah tekanan inflasi global.
Dampak terhadap Kebijakan Moneter
Ketegangan energi dan inflasi yang meningkat menurunkan ruang gerak bank sentral, terutama Federal Reserve, untuk menurunkan suku bunga. Pasar memperkirakan peluang pemotongan suku bunga pada Desember hanya kurang dari 20 persen. Ahli strategi investasi di Global X ETFs, Justin Lin, menyatakan bahwa emas saat ini lebih dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga daripada fungsi lindung nilai geopolitik, sehingga pergerakan saham dan emas bergerak searah.
Secara historis, tekanan inflasi yang tinggi dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe‑haven, namun dalam kondisi saat ini, penguatan dolar dan kenaikan harga energi menekan harga logam mulia.
Tren Jangka Pendek dan Outlook
Sejak awal konflik pada akhir Februari, harga emas telah turun sekitar 10 persen. Pada awal perang, investor massal menjual emas untuk menutup kerugian pada aset lain yang terdampak likuiditas. Pada perdagangan terbaru, emas spot kembali naik tipis 0,5 persen ke US$4.764,30 per ons, sementara perak, platinum, dan paladium juga mencatat penguatan marginal.
Para analis menilai bahwa selama blokade Selat Hormuz tetap berlangsung dan negosiasi damai belum menghasilkan kesepakatan yang konkrit, volatilitas harga emas akan tetap tinggi. Faktor-faktor yang perlu dipantau meliputi kebijakan moneter Federal Reserve, pergerakan harga minyak, serta perkembangan diplomatik antara AS dan Iran.
Dengan demikian, investor disarankan untuk tetap waspada terhadap perubahan sentimen pasar yang dapat dipicu oleh berita geopolitik atau keputusan kebijakan moneter yang tak terduga.




