Frankenstein45.Com – 23 Juni 2026 | Harga minyak dunia mengalami koreksi signifikan pada minggu ini, memicu spekulasi penurunan harga bahan bakar di dalam negeri. Menteri Keuangan, Purbaya, dalam konferensi pers menyatakan bahwa penurunan harga minyak mentah dapat menurunkan harga Pertamax, salah satu bahan bakar premium yang banyak dipakai di Indonesia.
Koreksi harga minyak ini dipicu oleh sejumlah faktor, antara lain pelemahan permintaan global, penyesuaian produksi oleh negara-negara OPEC+, serta fluktuasi nilai tukar dolar AS. Berikut rangkuman perubahan harga Brent dan WTI selama lima hari terakhir:
| Hari | Brent (USD/barrel) | WTI (USD/barrel) |
|---|---|---|
| Senin | 84,30 | 81,10 |
| Selasa | 82,70 | 79,50 |
| Rabu | 81,20 | 78,00 |
| Kamis | 80,10 | 76,80 |
| Jumat | 79,50 | 76,20 |
Menurunnya harga Brent dan WTI di atas memberikan ruang bagi pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan harga BBM. Purbaya menegaskan bahwa Kementerian Keuangan terus memantau pergerakan pasar internasional dan akan berkoordinasi dengan BUMN energi serta regulator untuk menyesuaikan tarif Pertamax jika diperlukan.
Beberapa faktor yang akan dipertimbangkan dalam penetapan harga antara lain:
- Biaya impor minyak mentah setelah dikonversi ke Rupiah.
- Biaya produksi dan distribusi di dalam negeri.
- Kebijakan subsidi dan tarif pajak.
- Stabilitas pasokan dan kebutuhan pasar domestik.
Jika penurunan harga minyak berlanjut, konsumen berpotensi merasakan penurunan harga di SPBU, meskipun proses penyesuaian tarif biasanya memerlukan waktu beberapa minggu hingga satu bulan. Pemerintah menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan keberlanjutan industri energi nasional.
Sejumlah analis pasar energi memperkirakan bahwa penurunan harga Pertamax dapat berada pada kisaran 5.000 hingga 10.000 rupiah per liter, tergantung pada dinamika pasar internasional dan kebijakan fiskal yang diambil.




