Frankenstein45.Com – 09 Mei 2026 | Ketegangan militer yang kembali memuncak antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz pada hari Jumat, 8 Mei 2026, menyebabkan lonjakan tajam harga minyak dunia sekaligus menimbulkan gejolak di pasar saham global. Insiden baku tembak di perairan strategis tersebut memicu kekhawatiran akan terganggunya satu per lima pasokan minyak dan gas cair (LNG) dunia, sehingga investor beralih ke aset safe‑haven seperti dolar AS.
Lonjakan harga minyak mentah
Data pasar pada perdagangan Asia menunjukkan kenaikan lebih dari dua persen untuk kedua jenis minyak utama. Harga Brent untuk kontrak Juli naik 2,1 % menjadi US$103,37 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melambung 2,2 % ke level US$96,90 per barel. Beberapa lembaga keuangan mencatat bahwa pada sesi berikutnya harga Brent sempat berbalik ke level US$96,76 per barel (kenaikan 2,26 %) dan WTI kembali menguat menjadi US$96,76 per barel (kenaikan 2,06 %). Fluktuasi tersebut mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata secara teknis masih berlaku.
- Brent – US$103,37 (+2,1 %)
- WTI – US$96,90 (+2,2 %)
- Brent (TradingView) – US$96,76 (+2,26 %)
- WTI (TradingView) – US$96,76 (+2,06 %)
Selat Hormuz, jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra India, menjadi fokus utama karena lebih dari 20 % perdagangan minyak dunia melaluinya. Serangan yang terjadi melibatkan penembakan rudal dan drone oleh Angkatan Laut Iran terhadap tiga kapal perusak AS, serta balasan udara AS yang menargetkan infrastruktur militer Iran di pulau Qeshm dan Bandar Abbas.
Reaksi pasar keuangan
Pasar saham Asia mengalami penurunan tajam setelah berita konflik tersebar. Indeks utama seperti Nikkei 225, Hang Seng dan Shanghai Composite masing‑masing mencatat penurunan antara 1,2 % hingga 1,8 % dalam sesi pembukaan. Investor mengalihkan dana ke dolar AS, yang menguat lebih dari 0,5 % terhadap keranjang mata uang utama, memperkuat peran dolar sebagai aset pelindung di tengah gejolak geopolitik.
Bank investasi ANZ menilai bahwa volatilitas harga minyak akan tetap tinggi selama negosiasi gencatan senjata belum mencapai kesepakatan yang mengikat. Analis Citi memperkirakan bahwa meskipun pasar keuangan global dapat kembali stabil dalam jangka menengah, tekanan inflasi yang dipicu oleh harga energi yang tinggi dapat menahan pertumbuhan ekonomi di banyak negara.
Implikasi jangka panjang
Jika gencatan senjata yang ditengahi pada bulan April tidak dipertahankan, risiko gangguan pasokan minyak dapat meluas ke wilayah lain di Teluk Persia. Hal ini berpotensi menambah beban pada negara‑negara pengimpor energi, khususnya yang masih bergantung pada minyak mentah sebagai sumber utama energi. Di sisi lain, kebijakan AS yang menunda “Operation Freedom” – misi pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz – menunjukkan adanya pertimbangan diplomatik untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.
Secara keseluruhan, kombinasi antara kenaikan harga minyak, penguatan dolar, dan penurunan indeks saham menegaskan betapa rentannya pasar global terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah. Para pelaku pasar disarankan untuk memantau perkembangan dialog antara Washington dan Teheran, serta kebijakan langkah selanjutnya yang diambil oleh otoritas maritim internasional.
Dengan situasi yang masih belum menentu, volatilitas harga minyak kemungkinan akan tetap berada pada level tinggi selama beberapa minggu ke depan, sementara pasar saham akan terus bereaksi terhadap setiap sinyal diplomatik atau militer yang muncul di wilayah Selat Hormuz.




