Harga Plastik Naik 40‑45%: Kokola Naikkan Harga Produk, UMKM Dihimbau Beralih ke Kemasan Alternatif
Harga Plastik Naik 40‑45%: Kokola Naikkan Harga Produk, UMKM Dihimbau Beralih ke Kemasan Alternatif

Harga Plastik Naik 40‑45%: Kokola Naikkan Harga Produk, UMKM Dihimbau Beralih ke Kemasan Alternatif

Frankenstein45.Com – 17 April 2026 | Surabaya – Kenaikan tajam harga bahan baku plastik kemasan mencapai 40‑45 persen memaksa produsen FMCG, importir, dan UMKM di seluruh Indonesia mencari solusi agar beban tidak sepenuhnya dibebankan pada konsumen. PT Mega Global Food Industry, produsen biskuit dan wafer Kokola Group, mengumumkan penyesuaian harga jual produk sebesar 5‑10 persen mulai 15 April 2026. Langkah ini diambil setelah pemasok plastik menuntut pembayaran di muka, menandakan ketergantungan rantai pasok yang sangat terbatas.

Tekanan Harga Plastik di Seluruh Rantai Pasok

Lonjakan harga plastik tidak hanya dirasakan oleh industri makanan ringan. Menurut komentar dari Setijadi, Founder & Chairman Supply Chain Indonesia, kenaikan ini merupakan indikasi awal krisis stok bahan baku yang melibatkan material kritis seperti sulfur, aluminium, hingga helium. Lebih dari 70 persen kebutuhan bahan baku industri nasional masih diimpor, sehingga gangguan pada pelabuhan utama, terutama Selat Hormuz, secara langsung menambah tekanan pada harga biji plastik yang merupakan turunan minyak mentah.

Strategi Kokola Group Menghadapi Kenaikan Biaya

Direktur Richard Cahyadi menjelaskan bahwa perusahaan harus memperkuat pendanaan karena banyak pemasok menuntut pembayaran tunai di depan. “Supply chain kami sangat terbatas; semua pihak meminta cash di muka, sehingga kami harus memiliki kekuatan finansial yang kuat,” ujarnya di pabrik Gresik. Untuk menahan dampak pada tenaga kerja, Kokola menegaskan bahwa kenaikan harga tidak akan memengaruhi sekitar 350 karyawan.

Selain penyesuaian harga B2B yang nantinya akan diteruskan ke retail, Kokola juga melakukan efisiensi produksi. Contohnya, perusahaan mengubah model kemasan: dua keping produk kini dikemas dalam satu kemasan dibandingkan satu keping per kemasan sebelumnya. Pendekatan ini mengurangi penggunaan plastik per unit produk.

Upaya UMKM Mengurangi Beban Plastik

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho, menekankan pentingnya adaptasi cepat bagi pelaku UMKM. Ia mengusulkan beberapa langkah praktis:

  • Pilih kemasan alternatif berbasis lokal seperti kertas, bambu, atau singkong yang lebih stabil harganya.
  • Desain ulang kemasan dengan mengurangi ketebalan atau ukuran plastik tanpa mengorbankan keamanan.
  • Menerapkan sistem “bawa wadah sendiri” dengan insentif potongan harga untuk konsumen.
  • Manfaatkan subsidi atau insentif pajak yang diberikan pemerintah untuk bahan alternatif.

Wisnu mengaitkan lonjakan harga plastik hingga 100 persen dengan gangguan pasokan minyak mentah akibat perang di Timur Tengah yang menutup Selat Hormuz, serta prioritas energi domestik yang mengalihkan produksi petrokimia.

Peralihan ke Kemasan Daur Ulang

Menanggapi tekanan biaya, beberapa pemain besar mulai beralih ke resin daur ulang. Dow Indonesia bersama PT Sadikun Niagamas Raya menandatangani nota kesepahaman untuk menggunakan resin daur ulang pasca‑konsumen (PCR) pada kemasan kaku pelumas. Kolaborasi ini diharapkan menurunkan biaya produksi sekaligus mengurangi jejak karbon, selaras dengan target nasional ekonomi sirkular dan net‑zero emission 2060.

Pandangan Pemerintah dan Prospek Ke Depan

Pakarnya, Dessy Rachmawatie dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menilai bahwa kenaikan harga plastik merupakan bentuk cost‑push inflation yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat secara luas. Ia menyerukan kebijakan komprehensif, termasuk penghapusan bea masuk sementara untuk bahan baku alternatif, subsidi silang, dan penguatan industri petrokimia dalam negeri.

Jika langkah‑langkah tersebut dilaksanakan secara terkoordinasi antara pemerintah, pelaku industri, dan UMKM, tekanan harga plastik dapat diredam, sekaligus membuka peluang pertumbuhan industri daur ulang yang lebih berkelanjutan.

Secara keseluruhan, lonjakan harga bahan baku plastik menimbulkan tantangan besar bagi sektor FMCG, manufaktur, dan usaha mikro. Penyesuaian harga oleh Kokola Group, inovasi kemasan daur ulang, serta strategi adaptasi UMKM menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasar dan melindungi daya beli konsumen di tengah volatilitas global.