Hidup di Air Mendidih 100 Derajat, Bakteri Temuan Ilmuwan UI ini Jadi Sumber Enzim Langka
Hidup di Air Mendidih 100 Derajat, Bakteri Temuan Ilmuwan UI ini Jadi Sumber Enzim Langka

Hidup di Air Mendidih 100 Derajat, Bakteri Temuan Ilmuwan UI ini Jadi Sumber Enzim Langka

Frankenstein45.Com – 19 Mei 2026 | Tim peneliti Universitas Indonesia (UI) berhasil mengidentifikasi spesies bakteri termofilik baru yang dapat bertahan pada suhu hampir mencapai titik didih air, sekitar 100 °C. Penemuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan industri bioteknologi dan bidang kesehatan, terutama karena bakteri tersebut menghasilkan enzim langka yang stabil pada suhu tinggi.

Bakteri tersebut, yang diberi nama provisional Thermophilus boilingensis, diperoleh dari sampel air panas yang dipanen di kawasan geotermal Jawa Barat. Analisis molekuler menunjukkan bahwa mikroorganisme ini memiliki struktur protein yang unik, memungkinkan enzimnya tetap aktif meski berada dalam kondisi ekstrem.

Karakteristik utama bakteri

  • Suhu optimal: 95‑100 °C.
  • pH toleransi: 6,0‑8,0.
  • Metabolisme: Menggunakan sumber karbon organik sederhana serta senyawa sulfat.
  • Enzim utama: Thermozyme-X, sebuah protease yang tidak terdenaturasi pada suhu di atas 80 °C.

Potensi aplikasi

  1. Industri makanan: Penggunaan Thermozyme-X sebagai agen pemecah protein dalam proses pemrosesan daging dan produk susu, mempercepat tenderisasi tanpa menurunkan kualitas.
  2. Bioproses kimia: Enzim tahan panas dapat mempercepat reaksi kimia pada produksi biofuel dan bahan kimia khusus, mengurangi kebutuhan pendinginan.
  3. Bidang medis: Karena stabilitas tinggi, enzim dapat dimanfaatkan dalam formulasi obat yang memerlukan aktivasi pada suhu tubuh tinggi atau dalam prosedur sterilisasi.
  4. Pengolahan limbah: Memungkinkan degradasi bahan organik pada suhu tinggi di fasilitas pengolahan limbah industri.

Para peneliti UI menekankan bahwa meskipun potensi aplikasinya sangat luas, masih diperlukan uji skala industri serta evaluasi keamanan sebelum komersialisasi. Penelitian lanjutan akan fokus pada rekayasa genetika untuk meningkatkan produksi enzim serta mengoptimalkan kondisi kultur bakteri.

Penemuan ini menegaskan pentingnya eksplorasi mikroorganisme ekstrem sebagai sumber bioaktivitas baru yang dapat mendukung inovasi teknologi berkelanjutan.