Frankenstein45.Com – 01 Juli 2026 | Hungaria menegaskan pentingnya perlindungan bagi warga Ukraina yang berada dalam usia wajib militer, setelah Komisi Eropa mengusulkan penolakan pemberian perlindungan sementara kepada pria Ukraina berusia 18‑60 tahun.
Menteri Luar Negeri Hungaria, Péter Szijjártó, menyatakan bahwa kebijakan tersebut dapat memaksa jutaan orang Ukraina kembali ke zona konflik atau menjadi sasaran rekrutmen paksa. Ia menekankan bahwa Uni Eropa memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi mereka yang melarikan diri dari perang.
Skema Perlindungan Sementara (Temporary Protection Directive) yang diadopsi Uni Eropa pada 2022 memberikan hak tinggal, akses pasar kerja, dan bantuan sosial kepada pengungsi Ukraina. Hungaria menuntut perluasan skema tersebut agar mencakup semua warga Ukraina, termasuk yang berusia militer, serta memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan dipaksa bergabung dengan angkatan bersenjata Ukraina.
Komisi Eropa menanggapi dengan mengatakan bahwa proposal masih berada dalam tahap kajian, sambil menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara keamanan internal Uni Eropa dan solidaritas kemanusiaan.
Hungaria mengusulkan beberapa langkah konkret, antara lain:
- Memperpanjang durasi perlindungan sementara menjadi tiga tahun.
- Memberikan hak kerja tanpa pembatasan sektor bagi warga Ukraina berusia militer.
- Menyediakan layanan psikologis bagi mereka yang menghindari wajib militer.
- Berkoordinasi dengan negara anggota lain untuk mencegah deportasi paksa.
Beberapa negara anggota, seperti Polandia dan Latvia, menyatakan dukungan terhadap posisi Hungaria, sementara beberapa negara Baltik mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan kebijakan tersebut.
Jika Uni Eropa memutuskan untuk menolak perlindungan, diperkirakan akan terjadi lonjakan arus pengungsi baru ke negara-negara perbatasan timur, meningkatkan tekanan pada sistem migrasi dan menodai citra solidaritas Uni Eropa di kancah internasional.
Dengan mengedepankan perlindungan bagi warga Ukraina yang berisiko dipaksa masuk militer, Hungaria berharap Uni Eropa dapat mengadopsi kebijakan yang lebih inklusif dan manusiawi.




