Frankenstein45.Com – 07 April 2026 | Israel kembali menegaskan ambisinya untuk menguasai wilayah Lebanon Selatan, memperkuat dugaan bahwa invasi darat dapat terjadi dalam waktu dekat. Serangan udara dan laut yang dilancarkan pada 5 April 2026 menargetkan infrastruktur militer Hizbullah serta fasilitas sipil penting, termasuk rumah sakit di wilayah selatan Beirut.
Serangan tersebut melibatkan pesawat jet, drone, serta kapal perang yang menembus zona maritim Lebanon hingga 126 km dari pantai. Dalam satu serangan, zona Jnah di selatan Beirut menjadi sasaran, menewaskan sepuluh orang, termasuk sebuah keluarga beranggotakan enam orang, dan melukai puluhan korban lainnya. Di pinggiran selatan Beirut, yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah, empat warga tewas dan banyak lagi terluka akibat ledakan udara.
Militer Israel menyatakan tujuan utama serangan adalah menghancurkan jaringan logistik dan persenjataan Hizbullah. Sebuah foto yang diunggah oleh AFP memperlihatkan bangunan hancur di lingkungan Haret Hreik, menandakan intensitas serangan yang semakin meningkat. Pada saat yang sama, Hizbullah mengklaim berhasil meluncurkan rudal jelajah ke sebuah kapal perang Israel, menambah ketegangan di kawasan.
Sejak eskalasi pada 2 Maret 2026, lebih dari 1.400 orang tewas dan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi. Krisis kemanusiaan yang melanda Lebanon semakin parah karena target serangan tidak hanya bersifat militer, melainkan juga menekan sistem kesehatan. Lebih dari satu juta warga terpaksa meninggalkan rumah mereka, terutama di wilayah selatan dan pinggiran selatan Beirut.
Tekanan pada fasilitas kesehatan menjadi sorotan utama. Rumah sakit publik terbesar, Rafik Hariri University Hospital, hampir berada di garis tembak, sementara puluhan tenaga medis melaporkan kematian atau luka serius. Ambulans dan peralatan medis juga menjadi korban, mengurangi kapasitas layanan medis dasar di daerah terdampak.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyerukan dialog dengan Israel untuk menghentikan kehancuran lebih lanjut. Dalam sebuah siaran televisi pada 5 April, ia menekankan pentingnya negosiasi demi menyelamatkan rumah-rumah yang belum hancur, mengingat potensi kehancuran yang lebih luas bila konflik berlanjut.
Berikut rangkuman data terkini:
- Jumlah korban tewas: minimal 14 orang (4 di Beirut, 10 di selatan Lebanon)
- Korban luka: 39 orang
- Pengungsi internal: lebih dari 1,2 juta orang
- Fasilitas kesehatan yang rusak: beberapa rumah sakit, ribuan ambulans
Analisis militer menilai bahwa penempatan pasukan Israel di sepanjang perbatasan selatan Lebanon dapat menjadi langkah persiapan untuk operasi darat. Penempatan unit infanteri, artileri, serta dukungan logistik telah dilaporkan melalui sumber intelijen terbuka. Jika invasi terjadi, skenario terburuk mencakup pertempuran intens di daerah pegunungan dan perkotaan, memperparah penderitaan warga sipil.
Komunitas internasional menyoroti risiko meluasnya konflik ke negara-negara tetangga, terutama Iran yang terlibat dalam konflik ini melalui dukungan terhadap Hizbullah. Peringatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang pelanggaran hukum humaniter telah muncul, namun belum ada langkah konkret yang diambil untuk menurunkan intensitas tembakan.
Dengan tekanan politik dan militer yang terus meningkat, situasi di Lebanon Selatan tetap tidak menentu. Masyarakat internasional menunggu keputusan strategis dari kedua belah pihak, sementara warga Lebanon berjuang untuk bertahan hidup di tengah kehancuran infrastruktur vital.




