Frankenstein45.Com – 19 Mei 2026 | Drama Korea Perfect Crown yang diproduksi oleh MBC kembali menjadi sorotan utama publik Indonesia setelah dua bintang utamanya, aktris sekaligus penyanyi IU (Lee Ji-eun) dan aktor Byeon Woo Seok, secara resmi dipasangkan sebagai pasangan kekasih dalam alur cerita. Kedua pemeran ini memerankan Seong Hui‑ju dan Grand Prince I‑An, yang menjalin hubungan romantis di tengah intrik politik kerajaan. Penampilan chemistry mereka mendapat sambutan hangat, sehingga rating drama melonjak secara signifikan sejak penayangan pertama.
Popularitas yang Membara
Sejak episode pertama tayang pada awal Mei 2026, Perfect Crown berhasil menembus angka rating tertinggi pada slot prime‑time MBC. Penonton memuji visual megah, kostum tradisional, serta alur yang memadukan unsur fantasi dengan latar sejarah Korea. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan fanbase IU yang sangat besar, baik di Korea maupun di Indonesia, serta popularitas Byeon Woo Seok yang dikenal lewat peran-peran berkarakter kuat.
Kontroversi Distorsi Sejarah
Namun, popularitas ini tak lepas dari gelombang kritik tajam terkait dugaan distorsi sejarah. Pada episode ke‑11 yang ditayangkan 15 Mei 2026, penonton menyoroti dua hal krusial: penggunaan istilah “Cheonse” dalam upacara naik takhta, serta pilihan mahkota guryumyeonryugwan yang biasanya dipakai oleh kerajaan bawahan di bawah kekuasaan Tiongkok. Menurut para ahli sejarah dan netizen, istilah yang tepat seharusnya “Manse”, simbol kerajaan merdeka, dan mahkota yang seharusnya dipakai adalah shipimyeonryugwan. Kesalahan ini menimbulkan persepsi bahwa drama menggambarkan kerajaan fiksi sebagai bagian dari Tiongkok, bukan kerajaan independen Korea.
Reaksi publik pun cepat menyebar di media sosial. Ribuan komentar menuntut klarifikasi, sementara beberapa pengguna menuduh produksi mengabaikan sensitivitas sejarah nasional. Tekanan ini memaksa tim produksi, termasuk MBC, untuk memberikan penjelasan resmi.
Permintaan Maaf Resmi dari IU dan Byeon Woo Seok
Menanggapi sorotan tersebut, IU mengunggah pernyataan panjang melalui akun Instagram pribadinya pada Senin, 18 Mei 2026. Dalam tulisan tersebut, ia mengakui kurangnya riset mendalam sebelum menerima peran, menyatakan rasa bersalah atas “keteledoran” yang menimbulkan kekecewaan penonton, dan berjanji akan lebih berhati‑hati dalam memilih proyek di masa mendatang. Ia menulis, “Sebagai aktris utama, saya seharusnya mempelajari naskah dengan lebih teliti dan menghormati konteks sejarah yang diangkat.”
Tak kalah, Byeon Woo Seok juga menulis surat pribadi di Instagram yang menegaskan bahwa ia “tidak cukup mempertimbangkan konteks sejarah selama proses syuting”. Ia menambahkan bahwa kritik publik mendorong introspeksi diri, dan ia berjanji untuk “mengambil tanggung jawab yang lebih besar tidak hanya atas akting, tetapi juga atas pesan dan konteks produksi”.
Respons MBC dan Langkah Perbaikan
Perusahaan penyiaran MBC pun mengeluarkan pernyataan resmi pada 19 Mei 2026, menyatakan permintaan maaf kepada penonton dan menegaskan komitmen untuk melakukan revisi pada bagian yang menimbulkan kebingungan historis. Mereka berjanji akan menambahkan catatan klarifikasi pada episode yang bersangkutan serta meningkatkan konsultasi dengan pakar sejarah pada produksi selanjutnya.
Analisis Dampak
- Rating tetap tinggi: Meskipun kontroversi, drama tetap mencatat peningkatan viewership hingga akhir musim.
- Kepercayaan publik teruji: Permintaan maaf terbuka dari para pemeran utama membantu meredam kemarahan, namun menimbulkan pertanyaan tentang prosedur riset dalam produksi drama historis.
- Pelajaran industri: Kasus ini menjadi contoh penting bagi industri K‑drama untuk menyeimbangkan kreativitas fiksi dengan akurasi historis, terutama ketika menargetkan pasar internasional.
Kesimpulannya, IU dan Byeon Woo Seok berhasil mengukir momen romantis yang menjadi sorotan utama Perfect Crown, namun keberhasilan tersebut tak lepas dari tantangan besar terkait representasi sejarah. Permintaan maaf yang tulus dari kedua aktor serta langkah korektif MBC menunjukkan upaya memperbaiki citra sekaligus menjaga kepercayaan penonton. Kejadian ini sekaligus mempertegas pentingnya riset historis yang mendalam dalam produksi drama yang mengusung tema kerajaan, agar hiburan tetap mengedukasi tanpa menimbulkan kontroasi yang tidak perlu.







