Frankenstein45.Com – 22 Mei 2026 | PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mempercepat ambisinya mengubah kawasan Stasiun Manggarai menjadi pusat bisnis kedua di ibu kota sekaligus menyediakan ribuan unit hunian vertikal yang terintegrasi dengan jaringan transportasi publik. Proyek ini menjadi bagian penting dari Program 3 Juta Rumah pemerintah dan menandai langkah strategis perusahaan dalam memanfaatkan aset lahan seluas 62 hektare yang tersebar di area Manggarai.
Proyek Hunian Vertikal di Manggarai
Pada Jumat, 22 Mei 2026, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menandatangani nota kesepahaman dengan PT Bank Tabungan Negara (BTN) di Menara BTN, Jakarta Pusat. Kesepakatan tersebut mencakup pembiayaan konstruksi dan penyediaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bagi calon pembeli. Rasyidin menyatakan bahwa tahap pertama pembangunan akan dimulai pada Juli–Agustus 2026 dengan estimasi waktu konstruksi 13 bulan hingga serah terima unit pertama.
Ruang lahan yang dialokasikan untuk fase awal berukuran sekitar 2,2 hektare, setara 22.000 meter persegi, akan menampung tiga tower apartemen. Selanjutnya, pada fase kedua, KAI akan mengembangkan delapan tower tambahan di area seluas 1,6 hektare, menambah total sekitar 5.000 unit hunian. Setiap unit dirancang berukuran 36–45 meter persegi untuk tipe dua kamar tidur, dengan harga mulai Rp500 juta bagi segmen berpenghasilan rendah dan Rp700 juta hingga lebih dari Rp1 miliar untuk unit non‑subsidi.
Integrasi Transit Oriented Development (TOD)
Konsep Transit Oriented Development (TOD) menjadi landasan utama desain proyek. Lokasi Manggarai dipilih karena menjadi simpul transportasi utama, menghubungkan KRL Commuter Line, kereta bandara, LRT, serta layanan kereta jarak jauh. Data internal KAI menunjukkan bahwa Stasiun Manggarai melayani sekitar 300 ribu penumpang per hari, menyumbang signifikan dari total 1,3 juta penumpang KRL harian. Dengan menempatkan hunian tepat di atas jaringan transportasi, KAI berharap dapat mengurangi waktu tempuh, biaya perjalanan, dan tekanan kemacetan di wilayah penyangga Jakarta.
Kawasan Manggarai Menjadi CBD Kedua
Rasyidin menegaskan bahwa pengembangan tidak hanya berhenti pada hunian vertikal. Seluruh kawasan seluas 62 hektare akan dibangun sebagai pusat bisnis, komersial, olahraga, dan hiburan. Rencana tersebut mencakup pembangunan pusat perbelanjaan, ruang kantor, arena olahraga, serta fasilitas leisure berstandar internasional. Bahkan Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya menambahkan convention hall dan hotel bintang lima sebagai penunjang posisi Manggarai sebagai CBD kedua yang setara dengan Sudirman Central Business District (SCBD).
Implikasi bagi Mobilitas dan Ekonomi
Dengan mengintegrasikan hunian dan fasilitas komersial ke dalam jaringan transportasi, KAI berupaya menciptakan pola kota yang lebih berkelanjutan. Penduduk yang tinggal di tower baru dapat mengakses layanan publik tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi, sehingga mengurangi emisi CO2 dan menurunkan beban lalu lintas. Selain itu, proyek ini membuka peluang kerja di sektor konstruksi, properti, dan layanan pendukung, memperkuat pertumbuhan ekonomi lokal.
Pengembangan Lain dan Tantangan
KAI mencatat kepemilikan aset lahan sekitar 327 juta meter persegi di lebih dari 100 kota besar di Jawa dan Sumatera. Hal ini membuka peluang replikasi model TOD di kota-kota lain, meskipun tantangan regulasi, pembiayaan, dan koordinasi antar lembaga tetap harus diatasi. Sementara itu, pada hari yang sama, KAI juga menghadapi insiden operasional di Stasiun Pasar Senen, di mana dua kereta (KA Jaka Tingkir dan KA Serayu) mengalami gangguan teknis, menyebabkan penumpang menunggu lebih lama. Insiden tersebut menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur seiring peningkatan beban operasional.
Di sisi layanan, KAI terus menambah armada dengan meluncurkan lima layanan kereta baru pada Februari 2025, menargetkan peningkatan kapasitas dan kenyamanan bagi penumpang. Upaya ini sejalan dengan visi KAI untuk menjadi penyedia transportasi terpadu yang tidak hanya mengandalkan jaringan rel, tetapi juga mengintegrasikan properti, layanan keuangan, dan solusi mobilitas masa depan.
Secara keseluruhan, transformasi Manggarai menjadi pusat bisnis dan hunian vertikal menandai era baru bagi KAI. Dengan dukungan pemerintah, sektor keuangan, dan komitmen internal, proyek ini diharapkan selesai dalam waktu 13 bulan untuk fase pertama, sekaligus memberikan contoh model pembangunan perkotaan yang berkelanjutan dan terintegrasi.




