Frankenstein45.Com – 30 Juni 2026 | Menjelang Perang Dunia II, Batavia (sekarang Jakarta) dihuni sekitar 900 ribu jiwa. Pada awal 1950-an, setelah kedaulatan Indonesia dipulihkan, terjadi gelombang urbanisasi besar‑besar ke ibukota. Pemberontakan DI/TII dan kondisi ekonomi mendorong banyak penduduk Jawa, termasuk suku Betawi, berbondong‑bondong pindah ke kota untuk mencari pekerjaan dan tempat tinggal.
Seiring berjalannya waktu, Jakarta berubah menjadi megakota dengan proyek‑proyek pembangunan yang ambisius. Jalan tol, kawasan bisnis, perumahan bersubsidi, serta pusat-pusat komersial baru menelan lahan luas yang sebelumnya menjadi tempat tinggal tradisional Betawi. Tanpa mekanisme perlindungan yang memadai, kampung‑kampung bersejarah terpaksa dibongkar atau diubah menjadi lingkungan modern.
Berikut beberapa contoh kampung Betawi yang telah menghilang atau terdampak berat:
- Kampung Setu – dulunya pusat perairan dan pasar ikan, kini menjadi area perumahan elit.
- Kampung Puspa – terletak di pinggir sungai, digusur untuk pembangunan jalur kereta api cepat.
- Kampung Angke – dikenal dengan pasar tradisionalnya, sebagian besar wilayahnya dijadikan taman kota dan fasilitas publik.
- Kampung Cempaka – digantikan oleh pusat perbelanjaan modern pada awal 2000‑an.
Penghilangan kampung tidak hanya berarti berkurangnya rumah fisik, tetapi juga menipiskan warisan budaya. Bahasa Betawi, musik gambang kromong, arsitektur rumah joglo‑betawi, serta tradisi gotong‑royong mulai tergerus. Generasi muda yang tumbuh di lingkungan baru kehilangan akses langsung ke identitas lokal mereka.
Pemerintah daerah serta sejumlah lembaga kebudayaan telah mengusulkan beberapa langkah mitigasi. Upaya revitalisasi meliputi pendirian museum Betawi, penetapan zona konservasi budaya, serta program pelatihan ketrampilan tradisional untuk warga yang terdampak. Beberapa proyek perencanaan kota juga mencoba menyisipkan elemen “kota bersejarah” di dalam desain baru, meski implementasinya masih terbatas.
Namun, tantangan utama tetap pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian budaya. Rekomendasi yang sering muncul antara lain: perencanaan tata ruang yang melibatkan partisipasi warga kampung, penetapan zona perlindungan khusus, serta pemberian insentif bagi pemilik tanah yang bersedia menjaga struktur tradisional. Tanpa kebijakan yang inklusif, risiko hilangnya identitas Betawi akan semakin tinggi.
Secara keseluruhan, transformasi fisik Jakarta tidak dapat dihindari, namun keberlanjutan nilai‑nilai budaya Betawi memerlukan komitmen bersama antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat. Menjaga jejak‑jejak kampung tradisional sekaligus memenuhi kebutuhan kota modern menjadi tantangan besar bagi generasi kini dan yang akan datang.




