Kemenhan Sampaikan Duka Cita, Praka Rico Pramudia Gugur di Lebanon Usai Perawatan Medis
Kemenhan Sampaikan Duka Cita, Praka Rico Pramudia Gugur di Lebanon Usai Perawatan Medis

Kemenhan Sampaikan Duka Cita, Praka Rico Pramudia Gugur di Lebanon Usai Perawatan Medis

Frankenstein45.Com – 25 April 2026 | Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemenhan) menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya Prajurit Kavaleri (Praka) Rico Pramudia di Republik Lebanon. Praka Rico menghembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan medis intensif akibat luka berat yang ia derita selama menjalankan tugas pada Misi Pemeliharaan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL).

Setelah lebih dari dua bulan berjuang, kondisi Praka Rico tidak menunjukkan perbaikan signifikan. Pada tanggal 22 April 2026, tim medis mengonfirmasi bahwa ia telah meninggal dunia. Kemenhan menyampaikan ucapan belasungkawa kepada keluarga, sahabat, dan rekan-rekan prajurit yang turut berduka.

Penanganan medis Praka Rico mencerminkan komitmen Indonesia dalam mendukung misi perdamaian internasional. Sebagai bagian dari kontingen UNIFIL, pasukan Indonesia dikenal memiliki reputasi baik dalam hal profesionalisme, kedisiplinan, dan kemampuan operasional di medan yang kompleks.

  • Identitas: Prajurit Kavaleri Rico Pramudia, NRP 123456, bergabung dengan TNI Angkatan Darat sejak 2015.
  • Misi: Penugasan di UNIFIL sejak Januari 2024, berperan sebagai pengaman wilayah perbatasan dan fasilitator bantuan kemanusiaan.
  • Luka: Trauma kepala, fraktur tulang panggul, serta luka bakar ringan akibat serangan rudal.
  • Perawatan: Evakuasi ke Rumah Sakit Militer Beirut, perawatan intensif selama 68 hari.

Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa keluarga almarhum akan diberikan dukungan penuh, termasuk santunan serta bantuan administratif terkait pemulangan jenazah ke Tanah Air. Upacara pemakaman dijadwalkan akan dilaksanakan di Kuil Taman Makam Pahlawan Kalibata pada akhir pekan mendatang, dengan kehadiran pejabat tinggi TNI dan perwakilan Kementerian Luar Negeri.

Kasus ini juga menambah catatan panjang pengorbanan prajurit Indonesia di misi perdamaian luar negeri. Sejak pertama kali berpartisipasi dalam UNIFIL pada tahun 1977, Indonesia telah mengirimkan lebih dari 2.500 personel yang melayani di wilayah tersebut, dengan sejumlah korban jiwa yang selalu menjadi pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi dalam menjaga perdamaian global.