Frankenstein45.Com – 17 Juni 2026 | Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop) baru-baru ini meluncurkan program strategis yang melibatkan koperasi serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di daerah‑daerah terpencil. Inisiatif ini bertujuan mempercepat transisi energi bersih sekaligus mengurangi kesenjangan akses listrik antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia.
Indonesia masih memiliki jutaan rumah yang belum terhubung jaringan listrik PLN, terutama di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau. Menurut data Kementerian Energi, lebih dari 10% populasi di daerah pelosok masih mengandalkan sumber energi tradisional yang kurang ramah lingkungan. PLTS dipandang sebagai solusi yang cepat, hemat biaya, dan ramah lingkungan untuk menyalakan rumah‑rumah, fasilitas kesehatan, dan sekolah di lokasi‑lokasi tersebut.
Peran Kemenkop dan Koperasi
Kemenkop berperan sebagai fasilitator kebijakan, menyediakan panduan teknis, serta mengkoordinasikan pendanaan antara pemerintah, koperasi, dan BUMN. Koperasi lokal, sebagai entitas yang paling mengenal kebutuhan masyarakat setempat, diberikan hak pengelolaan operasional dan pemeliharaan sistem PLTS. Dengan model ini, diharapkan keberlanjutan proyek dapat terjaga karena koperasi memiliki motivasi ekonomi dan sosial yang kuat.
Kolaborasi dengan BUMN
Beberapa BUMN energi seperti PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) turut berkontribusi dengan menyediakan peralatan, teknologi panel surya, serta tenaga ahli. Bantuan tersebut meliputi:
- Penyediaan panel surya berdaya 5–10 kW per desa.
- Instalasi dan integrasi sistem penyimpanan baterai.
- Pelatihan teknis bagi anggota koperasi dalam operasi dan pemeliharaan.
Target dan Jadwal Implementasi
Program ini menargetkan pembangunan PLTS di 250 desa pada tahun 2024–2025, dengan total kapasitas terpasang mencapai 2,5 megawatt. Berikut tabel ringkas target desa dan kapasitas yang direncanakan:
| No. | Provinsi | Jumlah Desa | Kapasitas PLTS (kW) |
|---|---|---|---|
| 1 | Papua | 60 | 600 |
| 2 | Maluku | 45 | 450 |
| 3 | Kalimantan Barat | 35 | 350 |
| 4 | Sulawesi Tengah | 30 | 300 |
| 5 | Sumatera Barat | 20 | 200 |
| 6 | Indonesia Lainnya | 60 | 600 |
Setiap desa yang terpilih akan menerima paket lengkap PLTS, termasuk inverter, baterai, serta sistem monitoring berbasis aplikasi seluler yang memungkinkan koperasi memantau produksi energi secara real‑time.
Manfaat yang Diharapkan
- Peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui listrik yang stabil untuk penerangan, pendingin, dan peralatan rumah tangga.
- Pengurangan emisi karbon dioksida sebesar sekitar 1,8 juta ton CO₂ per tahun.
- Penciptaan lapangan kerja lokal dalam instalasi, operasional, dan pemeliharaan PLTS.
- Penguatan peran koperasi sebagai motor pembangunan ekonomi berkelanjutan di tingkat desa.
Dengan mengoptimalkan sinergi antara koperasi, BUMN, dan pemerintah, Kemenkop berharap program PLTS ini dapat menjadi model replicable untuk wilayah‑wilayah lain yang masih belum terjangkau jaringan listrik konvensional.




