Frankenstein45.Com – 07 Mei 2026 | Jawa Pos – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait penutupan pabrik Krakatau Osaka Steel (KOS) di Cikarang. Penutupan tersebut dipicu oleh ketidakmampuan KOS bersaing secara efisien dengan produsen baja global, khususnya dari Tiongkok, yang menguasai skala produksi dan biaya produksi lebih rendah.
Alasan Penutupan
- Skala produksi Tiongkok yang jauh lebih besar, memungkinkan penurunan biaya per ton baja.
- Teknologi produksi yang lebih modern dan otomatisasi tinggi pada pabrik-pabrik Tiongkok.
- KOS mengalami penurunan margin keuntungan akibat harga jual baja internasional yang kompetitif.
- Ketergantungan pada bahan baku impor yang menambah beban biaya operasional.
Dampak terhadap Tenaga Kerja dan Industri Lokal
Penutupan pabrik berdampak pada sekitar 1.200 pekerja tetap dan sejumlah pekerja kontrak. Kemenperin berjanji akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyalurkan program penempatan kembali atau pelatihan ulang bagi pekerja terdampak.
Langkah Pemerintah Selanjutnya
| Langkah | Deskripsi |
|---|---|
| Peninjauan kembali kebijakan industri baja | Menilai kembali insentif bagi produsen dalam negeri agar dapat meningkatkan efisiensi. |
| Dukungan teknologi | Menggalakkan adopsi teknologi modern, termasuk digitalisasi dan otomatisasi. |
| Pengembangan rantai pasok | Mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor melalui peningkatan produksi dalam negeri. |
Jubir Kemenperin menegaskan bahwa penutupan KOS bukan berarti menutup pintu bagi industri baja Indonesia, melainkan menjadi sinyal perlunya restrukturisasi dan peningkatan daya saing. “Kami akan terus memantau kondisi pasar global dan berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi produsen yang mampu beroperasi secara efisien,” ujarnya.
Para analis industri menilai bahwa persaingan dengan baja Tiongkok akan terus menantang, namun peluang tetap ada bagi perusahaan yang berinvestasi pada inovasi, ramah lingkungan, dan nilai tambah produk.




