Frankenstein45.Com – 26 Juni 2026 | Setelah berhari‑hari dipenuhi spekulasi tentang kemungkinan penutupan atau pembatasan lalulintas kapal tanker di Selat Hormuz, situasi kini tampak mereda. Pemerintah Iran dan Uni Emirat Arab berhasil menurunkan ketegangan, sehingga jalur pelayaran utama yang menghubungkan Timur Tengah dengan pasar minyak dunia kembali beroperasi secara normal.
Selat Hormuz menyumbang sekitar tiga hingga empat persen produksi minyak mentah global setiap harinya. Karena itu, setiap gangguan di wilayah ini biasanya memicu fluktuasi harga yang tajam di pasar komoditas, khususnya kontrak berjangka minyak Brent (Inggris) dan West Texas Intermediate (WTI) (Amerika Serikat).
Data perdagangan pada hari Senin menunjukkan bahwa harga Brent turun sebesar 0,3 % menjadi sekitar US$78,90 per barel, sementara WTI mengalami penurunan 0,2 % dan diperdagangkan di kisaran US$75,10 per barel. Penurunan ini tergolong tipis, namun menandakan bahwa pasar mulai menyesuaikan diri dengan aliran pasokan yang kembali stabil.
Beberapa faktor yang berkontribusi pada koreksi harga ini antara lain:
- Kembalinya arus kapal tanker besar ke Selat Hormuz, mengurangi kekhawatiran tentang gangguan pasokan.
- Peningkatan stok minyak mentah di beberapa negara produsen utama yang menurunkan tekanan permintaan jangka pendek.
- Data ekonomi global yang menunjukkan pertumbuhan moderat, sehingga permintaan minyak tidak mengalami lonjakan signifikan.
Meskipun demikian, para analis mengingatkan bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah masih rentan. Jika terjadi eskalasi kembali, harga minyak dapat bergerak naik secara cepat.
Untuk ke depannya, pasar diperkirakan akan tetap mengamati perkembangan diplomatik di kawasan tersebut, sekaligus menilai dampak kebijakan produksi OPEC+ yang terus menyesuaikan output untuk menstabilkan pasar.




