Frankenstein45.Com – 22 Mei 2026 | Pada Selasa (26/05/2024), sebuah kecelakaan terjadi di Stasiun Bekasi Timur ketika kereta api kelas menengah Argo Bromo menabrak kereta listrik (KRL) yang sedang berada di jalur yang sama. Dua kereta mengalami benturan, menyebabkan kerusakan pada gerbong pertama Argo Bromo dan satu gerbong KRL. Tidak ada korban jiwa, namun beberapa penumpang mengalami luka ringan.
Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) segera membentuk tim penyelidikan untuk mengidentifikasi penyebab kecelakaan. Hasil sementara yang dirilis pada hari yang sama mengindikasikan bahwa faktor utama adalah kesulitan dalam penglihatan sinyal kereta oleh masinis Argo Bromo.
- Penempatan sinyal yang berada di sudut pandang kurang optimal, membuat sinyal sulit terlihat saat masinis berada pada kecepatan tinggi.
- Kondisi cuaca pada saat kejadian yang meliputi kabut ringan dan intensitas cahaya matahari yang menyilaukan, menurunkan kontras visual sinyal.
- Gangguan visual di dalam kabin masinis, termasuk debu dan kotoran pada kaca depan serta lampu kepala yang tidak terkalibrasi dengan baik.
Tim investigasi juga mencatat bahwa prosedur verifikasi sinyal secara manual tidak dijalankan secara konsisten, sehingga masinis mengandalkan penglihatan semata tanpa konfirmasi tambahan dari sistem otomatis.
KNKT menegaskan pentingnya perbaikan infrastruktur sinyal, termasuk peninjauan kembali posisi dan desain sinyal agar lebih mudah dilihat, serta peningkatan prosedur pemeriksaan visual bagi masinis sebelum berangkat. Selain itu, otoritas kereta api diminta untuk memperketat pelatihan pengemudi dalam mengidentifikasi sinyal pada kondisi cuaca yang menantang.
Pihak operator kereta api telah menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan KNKT dalam mengimplementasikan rekomendasi keselamatan. Mereka juga berjanji akan melakukan audit internal pada semua jalur yang memiliki potensi masalah serupa.
Kecelakaan ini menjadi pengingat bahwa faktor manusia dan kondisi fisik infrastruktur masih menjadi tantangan utama dalam menjaga keselamatan transportasi rel di Indonesia.




