Frankenstein45.Com – 29 Juni 2026 | Para ekonom dan perwakilan industri menegaskan bahwa faktor‑faktor tradisional seperti harga gas, biaya bahan baku, dan nilai tukar mata uang tidak dapat menjadi satu‑satunya penentu daya saing sektor manufaktur Indonesia. Menurut mereka, kebijakan pemerintah harus lebih selektif dalam memberikan insentif serta menciptakan ekosistem yang mendukung inovasi, produktivitas, dan efisiensi energi.
Beberapa poin penting yang disorot dalam diskusi tersebut antara lain:
- Harga gas bukan satu‑satunya variabel. Meskipun energi menjadi komponen utama biaya produksi, faktor lain seperti teknologi proses, manajemen rantai pasok, dan kualitas sumber daya manusia memiliki pengaruh yang signifikan.
- Kurs mata uang berperan besar. Fluktuasi nilai tukar dapat mengubah biaya impor bahan baku dan memengaruhi margin keuntungan perusahaan, terutama bagi industri yang sangat bergantung pada input luar negeri.
- Insentif yang tepat sasaran. Pemerintah disarankan memberikan dukungan berupa keringanan pajak, subsidi energi, atau bantuan pendanaan bagi perusahaan yang berinvestasi dalam riset dan pengembangan (R&D) serta adopsi teknologi bersih.
- Pengembangan infrastruktur. Ketersediaan infrastruktur logistik yang handal, seperti pelabuhan, jalan, dan jaringan listrik yang stabil, dapat menurunkan biaya operasional secara keseluruhan.
Selain itu, para pakar menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta. Pemerintah diharapkan dapat merancang kebijakan yang tidak hanya berfokus pada penurunan biaya energi, melainkan juga pada peningkatan kompetensi tenaga kerja, penguatan rantai pasok domestik, serta dorongan bagi perusahaan untuk mengadopsi praktik produksi berkelanjutan.
Dengan pendekatan yang holistik, diharapkan industri Indonesia dapat meningkatkan daya saingnya di pasar global, tidak hanya mengandalkan harga gas atau bahan baku yang murah, melainkan melalui keunggulan inovatif dan efisiensi operasional yang berkelanjutan.




