Frankenstein45.Com – 14 April 2026 | Jakarta, 14 April 2026 – Sejumlah peristiwa yang melibatkan penyanyi dangdut Pratama Arhan, mantan istrinya Azizah Salsha, serta kreator konten populer Bigmo (Muhammad Jannah) kembali menjadi sorotan publik. Perseteruan yang awalnya berujung pada laporan polisi karena dugaan pencemaran nama baik kini berakhir dengan pencabutan laporan dan pernyataan maaf, menandai babak baru dalam dinamika hubungan selebriti dan influencer di era digital.
Awal Mula Laporan Polisi
Kasus dimulai ketika Azizah Salsha mengajukan laporan polisi terhadap Bigmo dan Resbob (teman kolaborasinya) atas tuduhan pencemaran nama baik. Laporan tersebut muncul setelah serangkaian unggahan dan video yang dianggap menjelekkan nama baik mantan suaminya, Pratama Arhan, serta menyinggung pribadi Azizah secara sensitif.
Reaksi dan Pembantahan Bigmo
Kreator konten Bigmo secara terbuka membantah semua tuduhan tersebut dalam sebuah wawancara dengan tim redaksi Kompas pada 13 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa tidak ada tindakan senggol atau provokasi terhadap Reza Arap maupun Marapthon, serta menolak dugaan call‑out atau duel yang sempat beredar di media sosial. Menurutnya, semua aksi tersebut hanyalah bagian dari akting demi kebutuhan konten, dan ia menekankan bahwa “namanya juga ibarat Brad Pitt, lagi akting‑akting saja”.
Penghapusan Laporan dan Perdamaian
Pada pertengahan April 2026, Bareskrim Polri mencatat pencabutan laporan polisi yang diajukan Azizah Salsha. Dalam pernyataan resmi, mantan istri Pratama Arhan menyatakan telah memaafkan Bigmo dan Resbob, serta menegaskan bahwa tidak ada niat melanjutkan proses hukum. “Saya memaafkan mereka, dan kami resmi berdamai,” ujar Azizah.
Pengakuan tersebut mendapat sorotan luas, terutama karena sebelumnya rumor perselingkuhan antara Pratama Arhan dan Bigmo sempat beredar, meski tak terbukti. Warganet pun menanggapi dengan beragam pendapat, sebagian mengkritik tindakan hukum awal, sementara yang lain memuji sikap maaf sebagai contoh penyelesaian damai di dunia maya.
Fenomena Jodoh‑jodohan dan Konten AI
Setelah berita pencabutan laporan tersebar, netizen dengan cepat memulai tren jodoh‑jodohan antara Bigmo dan Azizah Salsha. Beberapa video viral menampilkan komentar kocak dan spekulasi mengenai kemungkinan pernikahan keduanya. Bigmo menanggapi dengan santai, menyatakan bahwa “jodoh kan nggak ada yang tahu, kita semua cuma ikut arahan Allah saja”. Ia juga menepis klaim bahwa dirinya dan Azizah akan menikah bulan depan, menyebutnya sebagai hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang tidak benar.
Pengacara Azizah, Anandya Dipo Pratama, mengingatkan publik untuk lebih kritis terhadap konten yang dihasilkan AI, mengingat semakin canggihnya teknologi yang dapat meniru suara dan gambar asli. “Harus tabayun dulu kepada orangnya, jangan sampai kita langsung men‑judge apa pun yang ada di media sosial itu benar,” tegasnya.
Dampak pada Karier Pratama Arhan
Walaupun Pratama Arhan tidak terlibat langsung dalam perselisihan tersebut, nama dan reputasinya tetap menjadi bagian penting dalam narasi publik. Beberapa pengamat menilai bahwa kasus ini menyoroti betapa rapuhnya citra publik selebriti ketika berhubungan dengan influencer yang memiliki jutaan pengikut. Selain itu, peristiwa ini membuka diskusi mengenai batasan antara kebebasan berekspresi dan pencemaran nama baik di ranah digital.
Para pakar media sosial menekankan pentingnya edukasi digital, khususnya bagi publik figur yang harus lebih cermat dalam menanggapi rumor dan tuduhan. “Kita harus belajar menilai sumber informasi, serta memahami konsekuensi hukum bila menyebarkan fitnah,” ujar seorang dosen komunikasi dari Universitas Indonesia.
Kesimpulan
Kasus yang melibatkan Pratama Arhan, mantan istri Azizah Salsha, serta kreator konten Bigmo menegaskan kompleksitas hubungan antara dunia hiburan dan influencer di era digital. Dari laporan polisi hingga pencabutan dan perdamaian, peristiwa ini memberikan pelajaran penting tentang pentingnya penyelesaian damai, kehatian‑hatian dalam menyebarkan informasi, serta peran AI dalam menciptakan konten yang dapat menyesatkan publik. Ke depan, diharapkan semua pihak dapat lebih bijak dalam berinteraksi di media sosial, demi menjaga reputasi pribadi dan integritas ruang digital.







