Korban Tewas Akibat Agresi Israel di Lebanon Capai 3.073 Sejak Maret
Korban Tewas Akibat Agresi Israel di Lebanon Capai 3.073 Sejak Maret

Korban Tewas Akibat Agresi Israel di Lebanon Capai 3.073 Sejak Maret

Frankenstein45.Com – 21 Mei 2026 | Sejak serangan militer Israel yang dimulai pada bulan Maret 2024, jumlah korban jiwa di wilayah selatan dan timur Lebanon serta pinggiran selatan Beirut telah menembus angka 3.073 orang. Angka ini mencakup warga sipil, petugas keamanan, dan anggota kelompok bersenjata yang terlibat dalam konflik.

Serangkaian serangan udara, artileri, dan serangan darat yang dilancarkan oleh Israel ditujukan untuk menetralkan posisi Hezbollah serta menghentikan peluncuran roket dari wilayah Lebanon ke wilayah Israel. Namun, dampaknya meluas ke kawasan pemukiman, menimbulkan kerusakan infrastruktur, rumah warga, serta menambah beban pada sistem layanan kesehatan yang sudah terbatas.

Berikut rangkuman data korban berdasarkan wilayah dan periode:

  • Selatan Lebanon: 1.842 korban jiwa, mayoritas adalah warga sipil yang berada di dekat zona perbatasan.
  • Timur Lebanon (Bekaa): 712 korban, termasuk sejumlah anggota milisi dan penduduk sipil yang terjebak dalam pertempuran.
  • Pinggiran selatan Beirut: 519 korban, di mana intensitas tembakan meningkat pada akhir April.

Selain angka kematian, ribuan orang terluka dan lebih dari 10.000 warga mengungsi ke kamp pengungsian sementara atau ke daerah yang lebih aman di dalam negeri.

Berbagai pihak internasional, termasuk PBB dan organisasi kemanusiaan, telah mengeluarkan pernyataan kecemasan dan menyerukan gencatan senjata serta peninjauan kembali operasi militer yang berpotensi melanggar hukum humaniter. Menteri Luar Negeri Lebanon menuntut agar komunitas internasional memberikan tekanan diplomatik kepada Israel untuk menghentikan serangan yang menimbulkan penderitaan massal.

Di sisi lain, pihak militer Israel menyatakan bahwa operasi tersebut bersifat defensif, menargetkan fasilitas militer Hezbollah yang dianggap sebagai ancaman langsung. Namun, data lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar dampak menimpa warga non‑kombatan.

Situasi kemanusiaan di wilayah terdampak terus memburuk. Rumah sakit menghadapi kekurangan tenaga medis, peralatan, dan obat-obatan. Organisasi bantuan berupaya menyediakan bantuan medis darurat, makanan, dan tempat tinggal sementara, namun akses ke daerah yang paling terdampak sering terhambat oleh kondisi keamanan yang tidak stabil.

Jika tren ini berlanjut, jumlah korban diperkirakan akan terus meningkat, menambah beban psikologis dan sosial bagi masyarakat Lebanon yang telah lama berada dalam situasi krisis ekonomi dan politik.