Frankenstein45.Com – 21 Mei 2026 | Prof Basuki Supartono, anggota Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), memulai acara Pentahelix Pengurangan Risiko Bencana di kampus Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta pada Senin, 18 Mei 2026.
Latar Belakang
Kelurahan sebagai unit administratif terkecil di Indonesia memiliki peran strategis dalam mengidentifikasi dan menangani potensi bencana. Namun, keterbatasan sumber daya dan koordinasi sering menjadi kendala utama.
Tujuan Pentahelix
Pentahelix menggabungkan lima pilar: pemerintah, akademisi, swasta, masyarakat sipil, dan media. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan sinergi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program mitigasi.
Langkah-Langkah Pengurangan Risiko di Kelurahan
- Inventarisasi bahaya dan kerentanan secara berbasis data geografis.
- Penyusunan rencana kontinjensi yang melibatkan tokoh kelurahan.
- Peningkatan kapasitas melalui pelatihan kesiapsiagaan bagi warga.
- Pembangunan infrastruktur penahan, seperti drainase dan tanggul mikro.
- Monitoring dan evaluasi berkelanjutan dengan dukungan teknologi informasi.
Peran Masing-Masing Pilar
| Pilar | Peran |
|---|---|
| Pemerintah | Menyediakan regulasi, dana, dan fasilitas teknis. |
| Akademisi | Meneliti pola bahaya dan mengembangkan model mitigasi. |
| Swasta | Menyumbang teknologi, logistik, dan investasi infrastruktur. |
| Masyarakat Sipil | Menjalin jaringan relawan dan menyebarkan informasi. |
| Media | Mengkomunikasikan risiko dan edukasi publik secara luas. |
Dengan implementasi pendekatan Pentahelix, diharapkan setiap kelurahan dapat memperkuat sistem mitigasi lokal, mengurangi dampak bencana, dan meningkatkan ketahanan masyarakat.




