Frankenstein45.Com – 09 Juni 2026 | Bank Indonesia dan Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) mencatat bahwa nilai tukar rupiah dan peso terus tertekan di hadapan dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir.
Kelemahan kedua mata uang tersebut menambah beban biaya impor, terutama bagi sektor energi, bahan baku industri, dan barang konsumsi. Untuk mengurangi dampak negatif fluktuasi nilai tukar, pemerintah Indonesia bersama Filipina sedang mengkaji kemungkinan melakukan perdagangan dengan skema barter.
Skema barter yang dipertimbangkan meliputi pertukaran komoditas strategis, seperti beras, kelapa, minyak kelapa, serta produk elektronik dan tekstil. Dengan cara ini, transaksi dapat dilakukan tanpa bergantung pada konversi mata uang asing, sehingga mengurangi risiko nilai tukar.
Berikut ini gambaran singkat pergerakan nilai tukar rupiah dan peso terhadap dolar AS dalam tiga bulan terakhir:
| Bulan | Rupiah (per USD) | Peso (per USD) |
|---|---|---|
| Januari 2024 | 14.800 | 55,50 |
| Februari 2024 | 15.050 | 56,20 |
| Maret 2024 | 15.300 | 57,10 |
Pemerintah Indonesia berharap skema barter tidak hanya menstabilkan perdagangan bilateral, tetapi juga membuka peluang kerja sama jangka panjang di bidang agrikultura, energi terbarukan, dan manufaktur. Sementara itu, pihak Filipina menilai barter dapat membantu menyeimbangkan neraca perdagangan mereka yang juga terdampak oleh depresiasi peso.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa meski barter bukan solusi permanen, langkah ini dapat menjadi alternatif jangka menengah sambil menunggu kebijakan moneter yang lebih menguatkan nilai tukar. Keberhasilan skema tersebut akan sangat dipengaruhi pada kesepakatan harga komoditas, mekanisme logistik, dan dukungan regulasi kedua negara.




