Frankenstein45.Com – 24 Juni 2026 | Berbagai aksi protes yang digelar secara bersamaan di sejumlah kota menandai kemunculan kembali taktik demonstrasi ala Orde Baru, yang kini dipanggil sebagai “demo tandingan MBG”. Menurut sejumlah pengamat politik, strategi konvensional tersebut sudah tidak lagi memberikan dampak yang signifikan dalam menggerakkan opini publik.
Pengamat menilai bahwa era komunikasi digital telah mengubah cara masyarakat menerima dan merespons informasi. Platform media sosial, aplikasi pesan singkat, serta streaming langsung menjadi arena utama bagi aktivis untuk menyebarkan pesan, sehingga demonstrasi fisik yang terorganisir secara tradisional menjadi kurang relevan.
Berikut beberapa alasan mengapa taktik demo lama dianggap usang:
- Kecepatan penyebaran informasi di media sosial melampaui jangkauan demonstrasi konvensional.
- Partisipasi massa dapat terkoordinasi secara virtual tanpa harus berkumpul di satu lokasi.
- Penegakan keamanan dan pemantauan dapat lebih mudah dilakukan secara daring, mengurangi efektivitas aksi fisik.
Meski demikian, aksi-aksi fisik masih memiliki nilai simbolik, terutama dalam memperlihatkan solidaritas secara langsung. Namun, tanpa dukungan kuat dari kanal digital, dampak politik dari demo tandingan MBG diperkirakan akan terbatas.
Pengamat menekankan pentingnya adaptasi strategi aksi dengan memadukan unsur daring dan luring, agar gerakan massa dapat tetap relevan dan berpengaruh di tengah lanskap komunikasi yang semakin terfragmentasi.




