Frankenstein45.Com – 16 April 2026 | Pertarungan antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran telah menutup hampir seluruh arus lalu lintas di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026. Meskipun demikian, data terbaru menunjukkan bahwa sejumlah kapal berhasil menembus penjagaan ketat, bahkan beberapa negara tetap melanjutkan pengiriman barang vital melalui jalur strategis ini.
Empat Kapal yang Menembus Blokade
Di antara ratusan kapal yang terdampar, empat unit berhasil melintasi Selat Hormuz pada awal April. Kapal-kapal tersebut menggunakan rute alternatif yang disediakan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di antara Pulau Larak dan Pulau Qeshm. Nama-nama kapal tersebut adalah:
- Peace Gulf (berflag Panama) – menuju Uni Emirat Arab
- Rich Starry (berflag tidak disebutkan) – menuju Uni Emirat Arab
- Elpis (berflag tidak disebutkan) – menuju Uni Emirat Arab
- Satu kapal tanker lain yang belum teridentifikasi secara publik
Keberhasilan empat kapal ini menandai pengecualian penting dalam blokade yang diberlakukan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) pada 13 April.
Jumlah Kapal yang Melintasi Selat Hormuz
Data pelacakan Kpler mencatat total 279 kapal berhasil melintasi Selat Hormuz antara 28 Februari hingga 12 April 2026. Angka ini jauh di bawah rata‑rata harian sebelum konflik, yang biasanya mencapai sekitar 100 kapal per hari. Setelah gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April, hanya 45 kapal yang tercatat melintasi dengan aman.
Negara‑Negara yang Masih Memiliki Kapal Berlayar
Berbagai negara masih berhasil mengirimkan kapal‑kapal mereka melalui Selat Hormuz, meskipun menghadapi risiko serangan. Berikut ini rangkuman negara‑negara dan contoh kapal yang tercatat berhasil melintasi atau menjadi korban:
| Negara | Jumlah Kapal Tercatat | Contoh Kapal (Jika Ada) |
|---|---|---|
| Uni Emirat Arab (UEA) | 8 (serangan) + beberapa yang berhasil lewat | Peace Gulf, Rich Starry, Elpis |
| Oman | 6 (serangan) | Mkd Vyom, Hercules Star |
| Iraq | 2 (serangan) | Skylight, Libra Trader |
| Qatar | 2 (serangan) | Gold Oak, Safeen Prestige |
| Bahrain | 1 (serangan) | Sonangol Namibe |
| Kuwait | 1 (serangan) | Mussafah 2 |
| Arab Saudi | 1 (serangan) | Arabia III |
| Iran | 1 (serangan) | One Majesty |
| Panama | 1 (berhasil lewat) | Peace Gulf |
| Negara‑Negara Teluk, Pasifik, Afrika, Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara | Beragam (tidak terperinci) | Mayuree Naree, Star Gwyneth, Safesea Vishnu, Zefyros, Source Blessing, Gas Al Ahmadiah, Halul 50, Sunny 77, Al Salmi, Aqua 1, Qingdao Star |
Daftar di atas mencerminkan keragaman asal kapal, mulai dari tanker minyak hingga kapal kargo umum, yang melintasi selat meski berada di zona konflik.
Serangan Terhadap Kapal
Selama periode konflik, setidaknya 22 kapal menjadi korban serangan di perairan berdaulat negara‑negara tersebut. Delapan kapal diserang di perairan UEA, enam di Oman, dua di Irak, dua di Qatar, dan masing‑masing satu di Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, serta Iran. Nama‑nama kapal yang tercatat mengalami serangan meliputi Skylight, Mkd Vyom, Hercules Star, Stena Imperative, Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, Sonangol Namibe, Mussafah 2, Arabia III, One Majesty, Mayuree Naree, Star Gwyneth, Safesea Vishnu, Zefyros, Source Blessing, Gas Al Ahmadiah, Halul 50, Sunny 77, Al Salmi, Aqua 1, dan Qingdao Star.
Dampak Ekonomi dan Energi
Penutupan sebagian Selat Hormuz menurunkan pasokan minyak dan gas global secara signifikan. Harga minyak dunia melonjak hampir 50 % sejak awal pertempuran, memicu krisis energi di banyak negara. Ratusan kapal tanker dan kargo tetap terdampar di Teluk, memperparah kekurangan pasokan.
Meski begitu, keberhasilan beberapa kapal menembus blokade menunjukkan adanya celah operasional yang dimanfaatkan oleh pihak‑pihak tertentu, terutama melalui rute alternatif yang disetujui IRGC. Hal ini memberi harapan bagi sektor logistik maritim bahwa jalur perdagangan dapat tetap terjaga, setidaknya pada level terbatas.
Secara keseluruhan, data awal April 2026 memperlihatkan bahwa meskipun blokade dan serangan menekan lalu lintas, beberapa negara tetap berhasil mengirimkan kapal mereka melalui Selat Hormuz. Keberhasilan empat kapal menembus penjagaan ketat menjadi sorotan utama, sekaligus menandakan dinamika geopolitik yang terus berubah di wilayah tersebut.
Dengan situasi yang masih volatile, pemantauan terus‑menerus atas pergerakan kapal dan kebijakan militer menjadi kunci untuk menilai apakah Selat Hormuz akan kembali beroperasi normal atau tetap berada di bawah tekanan intensif.




