Frankenstein45.Com – 28 Juni 2026 | Desa Habau, yang terletak di Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, masih menyimpan hamparan hutan gambut yang menjadi habitat utama bagi populasi orangutan di wilayah tersebut. Hutan gambut ini tidak hanya berperan sebagai penyerap karbon, tetapi juga menyediakan sumber makanan dan tempat berlindung yang esensial bagi satwa liar, khususnya orangutan.
Selama beberapa dekade terakhir, hutan gambut di Tabalong menghadapi tekanan berat akibat pembukaan lahan, penebangan ilegal, dan kebakaran hutan. Aktivitas tersebut mengancam kelangsungan hidup orangutan yang sudah terancam punah. Menyadari urgensi situasi, sejumlah lembaga konservasi, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat bersatu untuk melindungi ekosistem ini.
Langkah-langkah konservasi yang telah dilakukan
- Patroli bersama: Tim patroli yang terdiri dari aparat keamanan, relawan, dan warga lokal secara rutin melakukan pengawasan untuk mencegah pembalakan liar dan kebakaran.
- Rehabilitasi lahan: Area yang pernah terbakar atau terganggu ditanami kembali dengan spesies pohon asli, sehingga dapat memulihkan sumber makanan bagi orangutan.
- Pendidikan lingkungan: Sekolah dan komunitas di sekitar desa diberikan materi tentang pentingnya hutan gambut serta cara-cara menjaga habitat satwa liar.
- Pengembangan ekowisata: Program wisata edukatif dibangun untuk memberikan alternatif pendapatan bagi warga, sekaligus meningkatkan kesadaran pengunjung tentang konservasi orangutan.
Data yang dikumpulkan oleh tim lapangan menunjukkan peningkatan populasi orangutan di wilayah tersebut sejak inisiatif konservasi dimulai pada awal tahun 2023. Pada tahun 2022 tercatat hanya 12 ekor individu dewasa, sedangkan pada akhir 2025 jumlahnya meningkat menjadi 18 ekor, termasuk beberapa anak yang baru lahir secara alami.
| Tahun | Populasi Orangutan |
|---|---|
| 2022 | 12 ekor |
| 2023 | 14 ekor |
| 2024 | 16 ekor |
| 2025 | 18 ekor |
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan pemerintah Kabupaten Tabalong yang telah menetapkan zona perlindungan khusus di hutan gambut, serta alokasi dana untuk program pemulihan ekosistem. Selain itu, kerjasama dengan organisasi non‑pemerintah internasional memberikan pelatihan teknis bagi relawan lokal dalam teknik pemantauan satwa dan penanaman kembali.
Meski ada kemajuan, tantangan masih tetap ada. Perubahan iklim meningkatkan risiko kebakaran, sementara tekanan ekonomi dapat memicu kembali aktivitas penebangan. Oleh karena itu, diperlukan komitmen berkelanjutan dari semua pemangku kepentingan untuk menjaga rumah orangutan tetap lestari.
Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat, harapan besar bahwa hutan gambut Tabalong akan kembali menjadi surga yang aman bagi orangutan serta menjadi contoh sukses konservasi hutan tropis di Indonesia.




