Frankenstein45.Com – 16 Mei 2026 | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa nilai tukar rupiah saat ini belum mencerminkan keparahan krisis moneter 1998, meskipun sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Istana Negara pada Senin (15/05/2024) sebagai respons terhadap kekhawatiran publik dan pelaku pasar.
- Cadangan devisa yang tetap kuat, mencapai US$135 miliar pada kuartal pertama 2024.
- Kebijakan moneter yang disiplin, dengan suku bunga acuan tetap pada 5,75%.
- Ekspor non‑migas yang tumbuh 8,5% YoY, memperkuat neraca perdagangan.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan paket stimulus fiskal sebesar Rp200 triliun untuk mendukung sektor UMKM dan memperkuat daya beli konsumen. Paket tersebut mencakup subsidi energi, insentif pajak, dan pembiayaan lunak melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).
Meski demikian, Purbaya mengingatkan bahwa risiko eksternal, seperti fluktuasi harga komoditas dan ketegangan geopolitik, tetap perlu dipantau secara ketat. Ia menambahkan bahwa otoritas moneter dan fiskal akan terus berkoordinasi untuk menjaga inflasi pada target 2–3% serta memastikan likuiditas pasar tetap memadai.
Pengamat ekonomi menilai pernyataan Menkeu tersebut dapat menenangkan spekulasi pasar dan memberikan kepercayaan kepada investor. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa konsistensi kebijakan dan transparansi data menjadi kunci untuk menghindari kembali ke kondisi krisis yang melanda Indonesia pada 1998.




