Menpora Malaysia Keluhkan Tak Ada Hak Siar Piala Dunia 2026, Sementara TVRI, RRI, dan ANTARA Siapkan Eksistensi Baru
Menpora Malaysia Keluhkan Tak Ada Hak Siar Piala Dunia 2026, Sementara TVRI, RRI, dan ANTARA Siapkan Eksistensi Baru

Menpora Malaysia Keluhkan Tak Ada Hak Siar Piala Dunia 2026, Sementara TVRI, RRI, dan ANTARA Siapkan Eksistensi Baru

Frankenstein45.Com – 03 Mei 2026 | Menpora Malaysia mengungkapkan kekecewaannya karena negara tersebut belum memperoleh hak siar resmi untuk menyiarkan Piala Dunia FIFA 2026. Pernyataan tersebut muncul di tengah persaingan ketat antara lembaga penyiaran publik dan swasta di kawasan Asia Tenggara untuk mengamankan hak eksklusif menayangkan turnamen sepak bola terbesar di dunia.

Situasi Hak Siar di Malaysia

Menurut Menpora, upaya pemerintah Malaysia untuk mengajukan tawaran hak siar belum berhasil, sehingga para penggemar sepak bola di negara tersebut harus menunggu alternatif penyiaran melalui platform digital atau jaringan satelit yang belum tentu memberikan pengalaman menonton yang optimal. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara kementerian terkait, penyedia konten, dan platform digital guna memastikan warga Malaysia tetap dapat menikmati pertandingan secara legal dan terjangkau.

Indonesia Siapkan Strategi Penguatan Lembaga Penyiaran Publik

Sementara itu, di Indonesia, para pengamat media menilai bahwa siaran langsung Piala Dunia 2026 dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat eksistensi lembaga penyiaran publik (LPP) seperti TVRI, RRI, dan ANTARA. Pengamat sepak bola tanah air, Mohammad Kusnaeni—yang akrab disapa Bung Kus—menyatakan bahwa era digital yang dipenuhi pilihan platform media sosial menuntut LPP untuk berinovasi agar tetap relevan.

“Siaran Piala Dunia yang hanya eksklusif di TVRI dibantu RRI dan ANTARA, diharapkan membuat masyarakat melihat kembali kehadiran LPP dalam menyajikan berbagai informasi hingga edukasi kepada publik,” ujar Bung Kus dalam dialog bersama RRI Tanjungpinang, Kepri.

Ia menambahkan bahwa kesempatan Piala Dunia 2026 harus dimaksimalkan dan dimanfaatkan sebesar‑besarannya oleh LPP, sehingga TVRI, RRI, dan ANTARA dapat menjadi pilihan pertama warga dalam mengakses hiburan dan konten edukatif terkait turnamen.

Kolaborasi Antara TVRI, RRI, dan ANTARA

TVRI telah menyiapkan pendaftaran nobar berlisensi serta memperluas jaringan stasiun daerah untuk menyiarkan pertandingan secara gratis. RRI akan menyiarkan melalui jaringan radio nasional, sementara ANTARA berkomitmen menyajikan pemberitaan daring dan konten multimedia melalui portal dan media sosial resmi mereka.

Menurut Bung Kus, siaran Piala Dunia harus menyisipkan nilai edukatif, karena sepak bola bukan sekadar olahraga melainkan sarana memperkuat persahabatan, persatuan, dan menentang rasisme. Ia juga menekankan bahwa partisipasi aktif LPP dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap olahraga, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesehatan publik dan mengurangi beban pada sistem kesehatan nasional.

Manfaat Ekonomi dan Budaya

Selain nilai sosial, Piala Dunia 2026 diproyeksikan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. LPP diharapkan menyiapkan konten yang menginformasikan manfaat ekonomi, peluang bisnis, serta dampak budaya yang muncul dari penyelenggaraan turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola, yang melibatkan 104 pertandingan di 16 kota tuan rumah di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Dengan sinyal TVRI yang kuat, dukungan RRI, dan jangkauan berita ANTARA, diharapkan masyarakat dapat mengakses pertandingan secara gratis, sekaligus menerima analisis mendalam, fakta sejarah, dan edukasi nilai sportivitas.

Perbandingan dengan Malaysia

Berbeda dengan Malaysia yang masih mencari solusi hak siar, Indonesia telah mengamankan hak eksklusif melalui TVRI, yang didukung oleh kebijakan pemerintah. Hal ini memberikan keunggulan kompetitif bagi LPP Indonesia dalam mempertahankan relevansi di era digital, sekaligus menegaskan peran strategis lembaga publik dalam menghubungkan masyarakat dengan peristiwa global.

Menpora Malaysia, meski belum memiliki hak siar, menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan pihak penyedia konten internasional maupun platform digital agar warga Malaysia tetap dapat menikmati Piala Dunia 2026 tanpa harus mengandalkan layanan ilegal.

Dengan dinamika ini, persaingan hak siar di Asia Tenggara mencerminkan tantangan global dalam menyeimbangkan kepentingan komersial, akses publik, dan nilai edukatif. Kedepannya, kolaborasi lintas negara dan pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi solusi untuk memastikan setiap pecinta sepak bola, baik di Indonesia maupun Malaysia, mendapatkan pengalaman menonton yang aman, informatif, dan menginspirasi.