Menyaksikan Prosesi Tabuik Naik Pangkek di Pariaman: Tradisi Penuh Makna
Menyaksikan Prosesi Tabuik Naik Pangkek di Pariaman: Tradisi Penuh Makna

Menyaksikan Prosesi Tabuik Naik Pangkek di Pariaman: Tradisi Penuh Makna

Frankenstein45.Com – 28 Juni 2026 | Pariaman, Sumatera Barat – Pada Minggu yang lalu, ribuan penonton menyaksikan prosesi Tabuuk Naik Pangkek, sebuah ritual tahunan yang menjadi puncak perayaan Tabuik di kota pelabuhan ini. Kelompok Tabuik Subarang menampilkan penempatan Bungo Salapan, simbol utama dalam rangkaian upacara yang melambangkan penghormatan kepada para syuhada.

Tabuik sendiri merupakan warisan budaya yang diadopsi oleh komunitas Melayu di Sumatera Barat sejak abad ke-19, terinspirasi dari tradisi Muharram di Timur Tengah. Selama sepuluh hari, prosesional berbaris mengelilingi kota, menampilkan patung kayu tinggi yang dihias dengan kain, pernak-pernik emas, dan lampu berwarna. Puncaknya, prosesi Naik Pangkek, menandai momen ketika para Tabuik dibawa naik ke panggung (pangkek) utama di lapangan terbuka, biasanya di alun-alun kota.

Dalam prosesi kali ini, kelompok Subarang menambahkan Bungo Salapan, yaitu sembilan buah bungo (tumpukan kain berwarna) yang disusun secara vertikal di belakang Tabuik. Penempatan Bungo Salapan melambangkan sembilan puluh sembilan (99) hari berpuasa dan menahan diri, serta menegaskan komitmen komunitas untuk menjaga kesucian tradisi.

  • Waktu pelaksanaan: Prosesi dimulai pukul 06.00 WIB dan berlangsung hingga sore hari.
  • Rute: Dari Masjid Raya Pariaman, melalui Jalan Sudirman, sampai ke Alun‑Alun Kota.
  • Peserta utama: Kelompok Tabuik Subarang, panitia budaya, pemuka agama, dan masyarakat umum.

Suasana di sepanjang rute dipenuhi oleh musik tradisional, seperti serunai dan gendang, serta nyanyian doa yang mengiringi setiap langkah. Penonton, baik lokal maupun wisatawan, berbondong‑bondong memberikan sorakan serta mengabadikan momen dengan kamera, menambah semarak suasana.

Selain nilai religius, Tabuik Naik Pangkek juga menjadi ajang promosi budaya daerah. Pemerintah Kabupaten Pariaman menegaskan komitmen untuk melestarikan tradisi ini melalui dukungan dana, pelatihan bagi generasi muda, serta penyediaan fasilitas keamanan dan kebersihan selama acara.

Para pengunjung yang belum familiar dengan tradisi ini dapat menyaksikan proses pembuatan Tabuik yang memakan waktu berbulan‑bulan, melibatkan para pengrajin kayu, penenun kain, dan seniman lukis. Setiap detail, mulai dari warna kain hingga bentuk patung, memiliki makna simbolik yang mendalam.

Dengan keberhasilan prosesi ini, harapan besar tersirat bahwa Tabuik Naik Pangkek akan terus menjadi warisan budaya yang hidup, mengikat generasi lama dan muda dalam satu ikatan kebersamaan yang kuat.