Frankenstein45.Com – 28 Juni 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa tidak semua inovasi teknologi dapat dianggap menguntungkan secara otomatis. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan pada acara konferensi pers, ia menyoroti dua bidang yang paling menonjol—teknologi nuklir dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI)—sebagai contoh utama potensi bahaya bila tidak diatur dengan ketat.
Ia mengingatkan bahwa teknologi nuklir, meskipun menawarkan manfaat energi bersih dan aplikasi medis, juga dapat disalahgunakan untuk tujuan militer atau terorisme. Contoh historis seperti proliferasi senjata nuklir di beberapa negara menunjukkan betapa pentingnya kontrol internasional dan kebijakan domestik yang tegas.
Di sisi lain, AI berkembang dengan kecepatan luar biasa, mulai dari sistem pengenalan wajah hingga algoritma prediktif yang memengaruhi pasar kerja. Prabowo menekankan risiko diskriminasi algoritmik, penyebaran disinformasi, dan potensi penggantian tenaga kerja manusia tanpa perlindungan sosial yang memadai.
- Regulasi yang jelas: Pemerintah perlu menyusun regulasi yang mengikat bagi pengembangan dan penggunaan kedua teknologi tersebut.
- Kolaborasi internasional: Kerjasama dengan badan internasional seperti IAEA untuk nuklir dan lembaga standar AI untuk memastikan kepatuhan.
- Pendidikan dan kesadaran publik: Masyarakat harus diberikan pemahaman tentang manfaat dan bahaya teknologi agar dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
Prabowo menutup dengan ajakan bagi semua pemangku kepentingan—pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan warga negara—untuk bersikap proaktif dalam menciptakan ekosistem teknologi yang bertanggung jawab, sehingga inovasi tetap menjadi pendorong kemajuan tanpa mengorbankan keamanan dan keadilan.




