Frankenstein45.Com – 12 Juni 2026 | Rupiah Indonesia mengalami tekanan nilai yang signifikan belakangan ini, namun pakar ekonomi Fuad Bawazier menekankan bahwa situasi ekonomi nasional saat ini berbeda jauh dari kondisi pada era krisis 1998.
| Tahun | Pertumbuhan Ekonomi (%) |
|---|---|
| 1998 | -13,1 |
| 2023 | 5,2 |
Selain pertumbuhan, beberapa indikator lain juga menunjukkan perubahan struktural yang signifikan:
- Cadangan devisa: Pada akhir 1998 cadangan devisa turun drastis di bawah US$ 5 miliar, sementara pada 2023 cadangan sudah melampaui US$ 130 miliar.
- Tingkat inflasi: Inflasi pada 1998 melambung di atas 70%, namun pada 2023 berada dalam kisaran 3‑4%.
- Kebijakan moneter: Bank Indonesia kini lebih menekankan pada stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi, berbeda dengan kebijakan pengetatan drastis yang dilakukan pada akhir 1990-an.
- Struktur ekonomi: Sektor jasa dan manufaktur kini menyumbang proporsi yang lebih besar terhadap PDB dibandingkan era 1998 yang didominasi oleh sektor pertanian.
Dengan dasar ekonomi yang lebih kuat, cadangan devisa yang besar, dan inflasi yang terkendali, Bawazier berpendapat bahwa meskipun nilai Rupiah melemah, risiko terulangnya krisis ekonomi seperti 1998 kini jauh berkurang.




