Frankenstein45.Com – 01 April 2026 | Lebanon Selatan kembali menjadi saksi tragedi bagi pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) ketika tiga prajurit TNI tewas dalam dua insiden terpisah pada 29 dan 30 Maret 2026. Kedua peristiwa itu menambah daftar panjang korban jiwa yang mengabdi di zona konflik yang terus memanas antara Israel dan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Latar Belakang UNIFIL dan Kontingen Garuda
UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) dibentuk pada tahun 1978 untuk memantau penghentian agresi Israel di Lebanon dan menegakkan gencatan senjata. Sejak resolusi Dewan Keamanan 1701 (2006), Indonesia secara konsisten mengirimkan kontingen Garuda, menjadi negara penyumbang kedua terbanyak pasukan UNIFIL setelah Amerika Serikat. Pada Januari 2026, tercatat sekitar 7.505 personel UNIFIL tersebar di 165 lokasi di Lebanon, dengan 1.200 di antaranya berasal dari TNI. Kebanyakan prajurit Indonesia ditempatkan di sektor timur, mencakup wilayah dari Shaqra hingga Shaba, serta sektor barat yang meliputi daerah perbatasan dengan Israel.
Kronologi Insiden 29‑30 Maret 2026
Pada Minggu, 29 Maret, sebuah proyektil tidak diketahui asalnya meledak di dekat pos Indonesia di desa Adchit al‑Qusayr, menewaskan prajurit Kapten Infanteri Zulmi Aditya. Keesokan harinya, Senin, 30 Maret, dua prajurit lainnya – Sertu Muhammad Nur Ikhwan dan Praka Farizal Rhomadhon – tewas ketika kendaraan mereka hancur akibat ledakan di dekat Bani Hayyan. Kedua peristiwa tersebut terjadi saat mereka mengawal rombongan UNIFIL yang sedang menjemput jenazah prajurit lain. UNIFIL menegaskan bahwa kedua ledakan merupakan insiden terpisah dengan sumber yang belum teridentifikasi.
Reaksi Nasional dan Internasional
Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat, Edhie “Ibas” Baskoro Yudhoyono, menyampaikan duka cita mendalam serta mengutuk keras serangan yang menargetkan pasukan perdamaian. Ia menekankan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan meminta investigasi transparan dari UNIFIL serta PBB.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri juga mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan pengutukan terhadap serangan Israel yang diyakini menjadi penyebab utama. Dalam pernyataan tersebut, Indonesia menyoroti risiko meningkatnya ancaman bagi peacekeeper PBB dan menyerukan penegakan resolusi keamanan secara tegas.
Di tingkat PBB, Sekjen Antonio Guterres mengutuk keras insiden pada Minggu dan menegaskan bahwa segala tindakan yang membahayakan penjaga perdamaian harus dihentikan. Kepala UNIFIL, Jean‑Pierre Lacroix, menambahkan bahwa investigasi sedang berlangsung untuk mengungkap sumber ledakan, baik itu dari milisi lokal maupun dari operasi militer Israel.
Investigasi dan Langkah Selanjutnya
Kapuspen TNI, Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, menyatakan bahwa TNI bersama UNIFIL tengah melakukan penyelidikan mendalam. Ia menambahkan bahwa pihak militer Indonesia terus memantau situasi keamanan dan menyiapkan langkah kontingensi untuk melindungi personel yang masih bertugas.
Selain itu, Karo Infohan Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa meski penyebab teknis masih diselidiki, kejadian ini menambah daftar risiko tinggi yang dihadapi pasukan perdamaian Indonesia di zona konflik.
Data Penempatan Pasukan Indonesia di Lebanon
- Jumlah total personel TNI di UNIFIL: 1.200 orang.
- Jumlah kontingen Garuda pada tahun 2024‑2025: 755 orang.
- Penempatan utama: sektor timur (Shaqra‑Shaba) dan sektor barat (perbatasan Israel‑Lebanon).
- Jumlah korban TNI sejak awal 2026: tiga prajurit gugur, beberapa lainnya luka-luka.
Sejak penempatan pertama pada 2006, pasukan Indonesia telah berperan dalam mendukung proses demiliterisasi, penegakan gencatan senjata, dan bantuan kemanusiaan di wilayah selatan Lebanon. Namun, meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah serta dinamika politik regional menambah kompleksitas misi damai tersebut.
Tragedi ini menegaskan kembali pentingnya perlindungan terhadap pasukan perdamaian internasional serta kebutuhan mendesak akan solusi diplomatik yang dapat meredakan konflik di perbatasan Lebanon‑Israel. Pemerintah Indonesia diharapkan terus menuntut akuntabilitas dari pihak yang bertanggung jawab serta memperkuat dukungan bagi keluarga korban yang berduka.
Dengan tiga prajurit TNI yang gugur dalam rentang 24 jam, Indonesia kembali menunjukkan komitmen kuatnya terhadap misi perdamaian global meski harus membayar mahal. Kejadian ini menjadi panggilan bagi komunitas internasional untuk bersama‑sama memastikan keamanan dan kebebasan operasional pasukan penjaga perdamaian, sehingga tujuan utama UNIFIL – menciptakan stabilitas dan perdamaian di Lebanon – dapat terwujud.




