Frankenstein45.Com – 03 April 2026 | Beirut, 2 April 2026 – Pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) melaksanakan upacara penghormatan terakhir bagi tiga anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gugur dalam dua insiden terpisah pada akhir Maret 2026. Upacara yang berlangsung khidmat di Bandara Internasional Rafik Hariri, Beirut, menjadi momen bagi dunia internasional menyaksikan duka mendalam atas kehilangan prajurit Indonesia di zona konflik Lebanon Selatan.
Kronologi Insiden
Insiden pertama terjadi pada 29 Maret 2026 di desa Adchit Al Qusayr, wilayah selatan Lebanon. Pada saat itu, Kopral Farizal Rhomadhon (23) yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda UNIFIL, menjadi korban ledakan proyektil tak teridentifikasi. Ledakan tersebut menewaskan Farizal di tempat dan melukai seorang prajurit lain secara kritis. Menurut laporan UNIFIL, proyektil tersebut kemungkinan berasal dari artileri tidak langsung yang ditembakkan dari posisi militer di sekitar zona konflik.
Sehari kemudian, pada 30 Maret 2026, dua prajurit lainnya – Mayor Zulmi Aditya Iskandar (35) dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan (29) – tewas dalam serangan yang lebih dahsyat di pinggir jalan dekat Bani Hayyan. Kendaraan taktis yang mereka tumpangi hancur akibat ledakan besar yang diduga berasal dari proyektil tank Israel. Dua prajurit tambahan juga mengalami luka serius. Kedua insiden tersebut memicu kecaman internasional dan menuntut penyelidikan mendalam.
Pernyataan Pihak Berwenang
Maj Jenderal Diodato Abagnara, Komandan Misi UNIFIL, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban. Ia menekankan bahwa prajurit Indonesia “datang ke sini jauh dari rumah dengan satu tujuan—melayani perdamaian,” dan menambahkan, “Mereka tidak dilupakan, mereka akan tetap menjadi bagian dari misi ini.”
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras insiden tersebut, menuntut semua pihak mematuhi hukum internasional serta menjamin keselamatan personel PBB. Juru bicara Sekretaris Jenderal, Stephane Dujarric, menegaskan bahwa proses pencarian fakta memerlukan waktu karena kondisi geografis dan keamanan yang tidak menentu. Tim teknis PBB masih memeriksa sisa‑sisa bukti fisik di lokasi, termasuk fragmen proyektil dan rekaman video drone.
Respons Indonesia
Pemerintah Indonesia, melalui Dubes Umar Hadi, menuntut penyelidikan langsung oleh PBB dan menolak segala upaya menyalahkan Israel tanpa bukti yang jelas. Indonesia bersama Prancis mengajukan agenda darurat di Dewan Keamanan PBB pada 31 Maret 2026, menyoroti tragedi tiga korban jiwa dan lima luka-luka.
Daftar Korban TNI
- Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar – Gugur (30 Maret 2026)
- Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan – Gugur (30 Maret 2026)
- Kopral Farizal Rhomadhon – Gugur (29 Maret 2026)
- Letnan Satu Sulthan Wirdean Maulana – Luka berat
- Praka Rico Pramudia – Luka berat
- Praka Deni Rianto – Luka berat
- Praka Bayu Prakoso – Luka ringan
- Praka Arif Kurniawan – Luka ringan
Upacara Penghormatan Terakhir
Upacara tersebut dihadiri oleh perwakilan militer Lebanon, pejabat PBB, serta Duta Besar Indonesia untuk Lebanon. Ketiga prajurit yang gugur dianugerahi medali anumerta dari PBB dan Angkatan Bersenjata Lebanon sebagai penghormatan atas pengabdian mereka. Seluruh personel UNIFIL menundukkan kepala dalam hening, menandakan solidaritas internasional terhadap keluarga korban.
Investigasi PBB terus berlanjut untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut, baik itu serangan udara maupun darat yang diluncurkan oleh militer Israel. Sementara itu, pemerintah Indonesia menyiapkan tim pendamping keluarga korban untuk memastikan proses evakuasi jenazah dan penanganan administratif berjalan lancar.
Kasus ini menambah ketegangan di wilayah Lebanon Selatan, di mana konflik antara milisi bersenjata dan pasukan Israel semakin intens. Kejadian tersebut menegaskan kembali risiko tinggi bagi pasukan perdamaian yang beroperasi di zona konflik, serta pentingnya perlindungan hukum internasional bagi mereka.
Dengan upaya diplomatik yang terus digencarkan, Indonesia berharap investigasi PBB dapat mengungkap fakta secara transparan, sehingga pihak yang bersalah dapat dimintai pertanggungjawaban. Sementara itu, keluarga korban, rekan-rekan prajurit, dan seluruh bangsa Indonesia terus mendoakan agar para pahlawan yang telah mengorbankan nyawa mereka tidak pernah terlupakan.




