Frankenstein45.Com – 11 Mei 2026 | Jakarta, 26 Mei 2024 – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nadiem Makarim menjalani persidangan terkait dugaan korupsi pengadaan Chromebook di ibu kota. Di sela‑sela proses hukum yang menegangkan, tokoh intelektual dan akademisi Rocky Gerung muncul di ruang sidang dan memberikan pelukan hangat sebagai bentuk dukungan moral.
Rocky Gerung, yang dikenal kritis terhadap kebijakan publik, menyatakan bahwa pelukan tersebut bukan sekadar isyarat pribadi, melainkan simbol solidaritas terhadap prinsip keadilan dan transparansi. Ia menambahkan bahwa proses persidangan harus dilihat dari perspektif hukum yang objektif, di mana setiap pihak berhak mendapatkan perlindungan hak asasi serta penegakan hukum yang adil.
Berikut rangkaian kejadian penting pada hari itu:
- 08.30 WIB – Sidang dimulai dengan pemanggilan Nadiem Makarim ke ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
- 09.10 WIB – Rocky Gerung tiba di lokasi dan duduk di bangku penonton, mengamati jalannya persidangan.
- 09.45 WIB – Setelah Nadiem selesai memberikan keterangan, Rocky berdiri, menghampiri Menteri, dan memberikan pelukan singkat di panggung.
- 10.00 WIB – Rocky menyampaikan pandangannya secara lisan, menekankan pentingnya proses hukum yang bebas intervensi politik.
- 10.30 WIB – Sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi lain dan peninjauan dokumen pengadaan Chromebook.
Rocky Gerung menekankan bahwa kasus pengadaan Chromebook melibatkan nilai transaksi yang cukup besar, sehingga diperlukan audit menyeluruh untuk memastikan tidak ada penyimpangan dana publik. Ia juga mengingatkan bahwa peran media dan masyarakat sipil sangat vital dalam mengawasi proses hukum demi mencegah potensi penyalahgunaan kekuasaan.
Sementara itu, tim hukum Nadiem menyatakan bahwa klien mereka siap bekerja sama penuh dengan lembaga penegak hukum dan menegaskan bahwa tidak ada bukti kuat yang mengaitkan Menteri secara langsung dengan praktik korupsi. Mereka menambahkan bahwa proses persidangan masih jauh dari selesai, dan semua pihak diharapkan menunggu hasil akhir yang objektif.
Kasus ini menarik perhatian luas, tidak hanya karena melibatkan pejabat tinggi, tetapi juga karena menyoroti mekanisme pengadaan barang elektronik di lingkungan kementerian. Pemerintah telah berjanji untuk meningkatkan transparansi dalam setiap tahapan pengadaan, termasuk penggunaan sistem e‑procurement yang terintegrasi.
Ke depan, publik menantikan keputusan pengadilan yang diharapkan dapat memberikan kepastian hukum serta menegaskan kembali komitmen negara dalam memberantas korupsi. Sementara itu, momen pelukan antara Nadiem dan Rocky menjadi simbolik, mengingatkan semua pihak bahwa di tengah proses hukum, nilai kemanusiaan dan solidaritas tetap penting.




